batak itu keren

Peranan Kerbau Dalam Kehidupan Etnis Batak (2)

Posted on: 30 April, 2008

Kerbau kerdil pulau Cebu, Filipina

Kerbau kerdil : hanya terdapat di pulau Cebu, Filipina

Oleh : Neggih Susilowati**

KONDISI patung kerbau yang ada di situs ini sekarang cukup memprihatinkan bila dibandingkan ketika Tichelman seorang peneliti Belanda pertama kali menjumpainya. Dikatakan olehnya,”…tidak jauh dari tempat tersebut dijumpai (patung) seekor kerbau dengan jelasnya, kepalanya melengkung…” (Tichelman dan P. Voorhoeve,1938:72).

Kemudian pada lereng padas yang terletak di bagian kanan patung ini, terdapat relief kepala kerbau. Kondisi relief ini umumnya sudah rusak, yang tampak hanya bagian kirinya saja. Mata bagian kiri digambarkan berbentuk lubang besar, hidung berbentuk lubang berjumlah dua buah, mulut terbuka, dan tanduk hanya tampak pada bagian kiri kepala. Adapun ukuran relief ini secara keseluruhan : tinggi 71 cm dan lebar 47 cm.

Ornamen kerbau di masyarakat Batak

ORNAMEN kerbau juga terdapat pada rumah-rumah adat masyarakat Batak di Sumatera Utara. Seperti pada rumah adat masyarakat Batak Simalungun, terdapat ornamen yang disebut Pinar Uluni Horbou, yaitu berupa kepala kerbau yang dibentuk dari ijuk dan tanduknya dari tanduk kerbau asli. Pada masyarakat Simalungun kerbau merupakan lambang kesabaran, keberanian, kebenaran, dan sebagai penangkal roh jahat
(Sipayung,dkk.,1994:18).

Masyarakat Batak Karo juga mengenal ornamen sejenis, berupa kepala kerbau berwarna putih yang terbuat dari ijuk dan tanduk kerbau asli. Ornamen tersebut diletakkan pada bagian ujung atapnya yang mengarah ke dua penjuru mata angin (timur–barat) jika memiliki 2 ayo-ayo (hiasan atap), atau empat penjuru mata angin (utara–timur—selatan–barat) jika memiliki 4 ayo-ayo. Ornamen itu melambangkan keperkasaan dan penjaga keselamatan dari serangan roh-roh jahat (Ginting & Sitepu,1994:18).

Demikian halnya dengan masyarakat Batak Toba. Pada ujung puncak atap bagian depan rumah adat (sopo) dihiasi motif Ulu palung (hiasan raksasa), menggunakan tanduk kerbau. Hiasan tersebut merupakan lambang penjaga keselamatan dari gangguan hantu. Khusus pada rumah raja, susunan tanduk kerbau ditempelkan pada dinding bagian dalam sopo yang menandai kekuasaan raja, sekaligus menggambarkan telah dilaksanakannya pesta besar (mangalahat horbo = memotong kerbau). Selain itu juga dikenal ornamen lain yang mirip kerbau yang disebut dengan Sijonggi (lembu jantan) yang merupakan lambang keperkasaan (Hasanuddin, dkk.,1997:5,12).

Kerbau dalam kehidupan etnis Batak

KERBAU merupakan hewan yang mempunyai nilai penting dalam kehidupan masyarakat dari dulu hingga kini. Melalui data ekofaktual yang ditemukan di situs-situs mesolitik, kemungkinan jenis hewan tersebut hidup liar di hutan Indonesia. Hewan tersebut diburu dan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan makanan manusia pada masa itu.

Kemudian pada masa yang lebih muda, bersamaan dengan terjadinya migrasi manusia pada masa neolitik dan perundagian, ketika manusia sudah hidup menetap; domestikasi (dijinakkan/budidaya) hewan dan tumbuhan juga dikembangkan. Migrasi tersebut juga membawa religi yang dikenal dengan pendirian bangunan-bangunan megalitnya sekitar 2500 SM — 1500 SM — awal Masehi. Pendirian bangunan megalit tersebut juga disertai upacara-upacara berkaitan dengan pemujaan roh-roh leluhur, atau berkaitan dengan kematian dengan; melaksanakan pemotongan hewan-hewan kurban, di antaranya kerbau.

Berbagai tinggalan arkeologis di situs-situs megalit Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan Lampung menggambarkan pemanfaatan maupun pembudidayaan kerbau. Itu masa yang sama dengan pembudidayaan kerbau di luar Indonesia, seperti di Lembah Indus, India (4500 tahun yang lalu), Cina (3500 tahun yang lalu), dan Mesir (800 tahun yang lalu) (Aziz,1999:3).

Peranan kerbau dalam kegiatan pertanian menunjukkan tingkat perkembangan sistem pertaniannya. Sistem pertanian yang dikenal semula pada masa prasejarah adalah pertanian lahan kering (perladangan), kemudian dkembangkan sistem pertanian lahan basah (persawahan).

Menurut Brandes, penanaman padi di sawah telah dikenal di Indonesia sebelum pengaruh kebudayaan India menyebar di Indonesia (Brandes,1889 dalam Ferdinandus,1990:426). Penanaman padi dengan sistem perladangan diperkirakan dikenal di Indonesia jauh sebelumnya, sekitar 2500 – 1500 SM, bersamaan masuknya kebudayaan megalitik tua di Indonesia (Geldern,1945:138–141).

Pendapat lain menyebutkan, penanaman padi dengan sistem pengairan dikenal di Indonesia diduga pada jaman logam (Marschall,1969 dalam Suryanto,1990:413). Bukti pendapat ini, di beberapa situs tingkat perundagian ditemukan beberapa alat-alat besi, yang diperkirakan digunakan pada kegiatan itu. Misalnya, dalam kubur peti batu di situs Kawengan, Kidangan, dan Gunungmas di Bojonegoro dan situs Gunungsigro di Tuban, Jawa Timur. ditemukan kapak, beliung, ujung tombak, mata sabit dan mata pisau (Suryanto,1990:412).

Ditambahkan bahwa sistem persawahan di Bali, pada tingkat perundagian telah dilaksanakan di kaki-kaki pegunungan; pada tempat yang mudah diatur pengairannya (Soejono,1977:322). Dengan demikian pada jaman logam atau perundagian diperkirakan kerbau telah dimanfaatkan untuk membantu kegiatan pertanian.

Sejarah domestikasi kerbau

Kerbau Sumatera tidak banyak berbeda dengan kerbau Benggala. Sekalipun termasuk famili bovidae, anatomi hewan ini berbeda dengan sapi, kukunya lebih lebar, dan tanduknya berbentuk bujursangkar atau gepeng melengkung ke belakang. Umumnya tanduk sejajar dengan kening dan tidak membentuk sudut seperti terdapat pada sapi. Ekor kecil menggantung sampai ke bawah lutut, kecil, dan berjumbai di ujungnya. Lehernya besar dan berotot, sehingga penampakan gelambir hanya terlihat sedikit atau tidak sama sekali (Marsden,1999:81).

Kerbau merupakan hewan domestikasi yang sering dikaitkan dengan kehidupan masyarakat bermatapencaharian di bidang pertanian. Kerbau digunakan sebagai sarana transportasi (kendaraan), untuk membantu mengolah lahan pertanian, dan kotorannya dapat dijadikan pupuk (Gunadi,2000:60). Domestikasi kerbau dikaitkan dengan kebutuhan hewan itu dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya seperti tersebut di atas, juga dikonsumsi atau digunakan sebagai hewan kurban pada upacara adat.

Secara khusus domestikasi kerbau di Sumatera Utara belum diketahui, namun melalui tinggalan arkeologis berupa patung dan relief kerbau pada punden berundak di Situs Batu Gaja, Simalungun menunjukkan adanya domestikasi hewan tersebut. Menilik kondisi situs Batu Gajah, Simalungun; yang merupakan situs megalitik; maka diperkirakan pemanfaatan kerbau di Sumatera Utara sudah dikenal sejak budaya megalitik berkembang di wilayah ini. (Bersambung)

==============================================================

*Penulis bekerja di Badan Arkeologi Medan

**Artikel ini sejatinya adalah sebuah paper, dengan judul asli KERBAU DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MEGALIT/TRADISINYA PADA ETNIS BATAK DI SUMATERA UTARA.

***Artikel ini telah mengalami pengeditan menjadi bersifat ilmiah populer, namun tanpa mengubah sustansinya; dengan maksud agar lebih mudah dicerna oleh pembaca dengan latar belakang yang beragam.

Bagi yang ingin melihat paper ini dalam wujud aslinya, klik saja link di bawah ini :

<http://tano-batak.blogspot.com/2007/10/kerbau-pada-etnis-batak.html&gt;

———————————————————————————–

Raja Huta
http://www.tobadreams.wordpress.com

3 Tanggapan to "Peranan Kerbau Dalam Kehidupan Etnis Batak (2)"

kira-kira sekarang masih banyak kerbau tidak di tanah Batak? sementara hutan terus dirusak apakah populasi binatang ini juga terancam? jangan sampai anak cucu kita hanya bisa melihat gambar kerbau saja.
Salam

Menarik nih ceritanya, kerbau sebagai lambang kesabaran, kekuatan dan penghalau roh jahat sepertinya memang seakan jadi simbol bagi masyarakat kita. Sama seperti Gajah yang disucikan oleh bangsa India. OK ditunggu kelanjutannya….

ya kah? Kerbau simbol kah bagi masyarakat batak? masa sich…………… Baru tau Lastry tuh. Pada hal Lastry lahir dan besar di Ambarita Pulau samosir, yang pastinya daerah kekuasaan orang batak. Atau Lastry yang tak tau kali ya. Thx buat infonya ya. lastry jadi tau.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 467,694 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: