batak itu keren

Peranan Kerbau Dalam Kehidupan Etnis Batak (1)

Posted on: 29 April, 2008

horbonta i guluan

Oleh : Nenggih Susilowati**

KERBAU (Bubalus bubalis) atau horbo dalam bahasa Batak, merupakan hewan paling penting peranannya dalam kehidupan suku-suku di Nusantara. Jenis hewan yang termasuk famili bovidae ini sudah dikenal sejak masa prasejarah. Terbukti dari beberapa fragmen tulang dan giginya yang ditemukan pada ekskavasi beberapa situs di Indonesia.

Di Sumatera, situs-situs yang mengandung temuan tersebut antara lain situs Gua Togindrawa, Nias dan Situs Bukit Kerang Pangkalan, Aceh Tamiang. Temun di kedua situs mesolitik itu menunjukkan, adanya pengkonsumsian jenis hewan famili bovidae.

Kemudian di daerah lain, yaitu pada situs megalitik, juga ditemukan bagian gigi kerbau (bovidae) pada kubur batu (phandusa) di Bondowoso. Ditemukan pula pada dolmen di situs Telagamukmin, Lampung Utara, serta tulang-tulang hewan ini di bawah menhir di Wonogiri (Sukendar,1990:215).

Dalam bentuk karya seni, hewan ini juga sering dijumpai pada tinggalan-tinggalan budaya megalitik, dalam bentuk patung, relief, maupun lukisan. Di Tanjung Ara dan Kotaraya Lembak, Sumatera Selatan, misalnya, ditemukan peti kubur batu dengan lukisan pada dinding. Menggambarkan tangan dengan tiga jari manusia dan kepala kerbau.

Di Airpurah, Sumatera Selatan, juga ditemukan patung dua orang prajurit yang berhadap-hadapan. Seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, yang lain memegang tanduk kerbau (Soejono,ed.,1993). Penggambaran kerbau dan manusia mempunyai hubungan dengan konsepsi pemujaan nenek moyang (De Bie dalam Soejono,ed.,1993:216).

Kemudian di Terjan, Jawa Timur, ditemukan arca-arca kepala yang menyerupai kerbau pada kubur batu (Sukendar,1990:216). Pahatan kerbau terdapat pada sarkofagus di situs Munduk Tumpeng, Bali yang dikaitkan dengan lambang kesuburan dan kendaraan arwah (Aziz,1999:3).

Kerbau sebagai ornamen di berbagai etnis

Kerbau hingga kini masih dipilih sebagai ornamen. Atau bagian tubuhnya dijadikan sebagai hiasan pada rumah-rumah adat, seperti rumah adat masyarakat Toraja, di Sulawesi Selatan. Kepala kerbau dalam khazanah simbolis orang Toraja disebut kabongo’. Penggunaan kepala kerbau sebagai artikulasi simbolik dapat ditemui pada tiang tongkonan (Tulak Somba).

Kepala kerbau dalam passura’ dapat dikenal melalui berbagai desain. Untuk variasi ini dikenal dengan pa’tedong, yang berkaitan dengan kekuasaan/kepemimpinan suku. Di Nias Selatan, simbol sejenis yang dikenal sebagai Hugolaso. Hanya berlaku untuk ketua kampung keturunan Si Ulu.

Di luar Indonesia beberapa kelompok suku Naga di dataran tinggi Assam, antara Myanmar dan India, menggunakan tanduk kerbau sebagai tanda kebesaran, status sosial tinggi, prestise, dan kekuasaan politik atas kelompoknya (Wiryomartono,2001:158).

Menarik bahwa di beberapa tempat di Indonesia, baik pada situs megalitik maupun masyarakat yang hidup dengan tradisi megalitik, kerbau digunakan sebagai simbol maupun pemanfaatan praktis.. Di Sumatera Utara, ornamen kerbau atau bagian tubuhnya juga digunakan oleh masyarakat Batak pada rumah-rumah adatnya.

Kerbau, budaya materi dan makna simboliknya

PENINGGALAN arkeologis berupa patung dan relief kerbau terdapat di punden berundak Situs Batu Gajah, Simalungun. Letak bangunannya pada tempuran dua sungai mengingatkan pada konsep bangunan suci Hindu – Buddha. Situs megalitik tersebut kemungkinan berkembang pada masa yang hampir sama, ketika pengaruh Hindu – Buddha bersemi di Padang Lawas sekitar abad ke- XI — XIV M.

Patung kerbau terletak di sebelah barat patung harimau sekitar 34,5 m pada undakan/teras keenam. Posisi patung berdiri agak miring ke kiri dan menghadap ke timur. Secara keseluruhan patung ini cukup besar. Kondisinya sebagian besar sudah mulai aus, sehingga bentuk anatomi tubuh terutama bagian kepala sudah tidak kelihatan.

Bagian kepala cukup besar, namun kondisinya sudah sangat aus. Pada bagian kiri dan kanan kepala bentuknya agak lebar. Bagian depan kepala terdapat bentuk yang menonjol. Dan di bagian bawahnya, terdapat bentuk hampir persegi empat yang bagian belakangnya menyambung ke bagian bawah kepala.

Bagian badan tambun, dengan perut buncit. Bagian pantat berbentuk bulat dan besar disertai gambaran alat kelamin jantan. Di atas badan binatang ini terdapat relief sebagian tubuh penunggangnya yang tampak pada bagian kanan patung. Bagian tubuh penunggang patung ini yang digambarkan adalah sebagian badannya, kaki kanan, dan tangan kanan. Pada bagian belahan pantat terdapat buah pelir sedangkan phalus berada di bagian bawah perut.

Kaki patung ini hanya tinggal tiga, karena kaki bagian depan sebelah kiri sudah tidak ada. Ketiga kakinya dalam posisi tegak, berbentuk lurus, dan berukuran cukup besar. Secara keseluruhan posisi patung ini miring ke kiri. Patung ini menggambarkan jenis kelamin jantan dengan sangat jelas. Adapun ukuran patung kerbau ini secara keseluruhan : tinggi 106 cm, panjang 155 cm, dan lebar 100 cm. (Bersambung)

======================================================================================

*Penulis bekerja di Badan Arkeologi Medan

**Artikel ini sejatinya sebuah paper, judul aslinya :KERBAU DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MEGALIT/TRADISINYA PADA ETNIS BATAK DI SUMATERA UTARA.

***Artikel ini telah mengalami pengeditan menjadi bersifat ilmiah populer, namun tanpa mengubah sustansinya; dengan maksud agar lebih mudah dicerna oleh pembaca dengan latar belakang yang beragam.

Bagi yang ingin melihat paper ini dalam wujud aslinya, klik saja link di bawah ini :

<http://tano-batak.blogspot.com/2007/10/kerbau-pada-etnis-batak.html&gt;

Raja Huta

http://www.tobadreams.wordpress.com

3 Tanggapan to "Peranan Kerbau Dalam Kehidupan Etnis Batak (1)"

Fungsi membajak di sawah sekarang dapat diganti dengan jettor (traktor tangan). Sehingga manfaat ekonomisnya tinggal sajian saat upacara adat.

Untuk menghindari turunya minat memelihara kerbau ini, barangkali ke depan dapat dikembangkan pemanfaat lain, misalnya ‘karapan kerbau’ ala toba. Atau atraksi tarik tambang dg kerbau

Horas

Horas ma hamu saluhut,Amang dohot Inang nadi bona pasogit.dipasupasu Tuhan ta,songoni nang hami diranto.Sombu sihol manjaha rubrik on.Ketepatan Ahu Pimpinan Perusahaan,Pimpinan Umum,Pimpinan Redaksi Sku.Target news Kepri.Tolong majolo asa boi kirim hamu berita Bona pasogit,pariwisata tu alamt email hon ate.Horasma.

Setuju dengan Pangonjat bahwa “Fungsi membajak di sawah sekarang dapat (sudah) diganti dengan jettor (traktor tangan). Sehingga manfaat ekonomisnya tinggal sajian saat upacara adat.”

Pada hal dengan kondisi tofografi dan luas pemilikan sawah yang sempit per keluarga, penggunaan jetor untuk mengolah sawah di hitaan kurang efisien. Tetapi, berdalih mengikuti jaman (baca: mekanisasi) maka jetor “dimasyarakatkan” baik oleh para pemodal maupun oleh pemerintah setempat sehingga peran kerbau sebagai ternak kerja tersingkirkan.

Akibatnya, “daya tarik'” beternak kerbau menjadi berkurang. Berikutnya, “susu ni horbo” alias dali menjadi langka. Bahkan yang lebih memprihatinkan, kerbau untuk adatpun terpaksa “diimpor’ dari Singkil Aceh, Padang Bolak, Sumbar dan lain-lain. Ujung-ujungnya, laju pengurasan uang dari Hitaan semakin menderas; ditambah lagi impor “pinahan lobu”, “manuk si-oto” (afkiran pula itu), “bibi naung sari matua” (dari Rampah) dohot dengke simudur-udur (dari “Simalungun Bawah”).

Ahhhhhh tahe……… begitulah kalau pembangunan pertanian dijalankan dengan kebijakan “latah alias ikut-ikutan” dan ditimpali pula oleh ambisi “memburu rente” para pemilik modal. Lahan tidur banyak, tapi “panjampalan” untuk ternak tidak ada. Pertanian merupakan pilar pembangunan katanya, tapi pakan ternak (termasuk jagung) didatangkan dari daerah lain.

Entah kapan anak-anak di Hitaan bisa minum atau mengallang susu “pinomat sahali saminggu”.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 453,396 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: