Doktor Marketing “Lulusan” Terminal Siantar (1)

Seandainya ibu ini di make-up sedemikian rupa, didandani ala wanita karier dan sedikit operasi plastik pada kulitnya yang gosong kena matahari setiap hari, pastilah pramuniaga kartu kredit di mal-mal yang manja-manja tak karuan itu bakal tereliminasi

Oleh : Eben Ezer Siadari

SAYA pernah terlanjur mengatakan, saya berani bertaruh tidak bakalan ada orang yang punya kesan baik tentang Terminal Siantar. Sekarang saya menyesal pernah bilang begitu. Sebab, setelah saya pikir-pikir, kendati terminal itu kumuh, becek dan bau, banyak juga orang yang terbantu oleh kehadirannya.

Ambil contoh begini. seorang anak SMA Kampus (Nommensen) seperti saya yang orang Sidamanik, punya pacar anak SMA Kristen yang orang Panei Tongah (sekali lagi, ini contoh belaka). Dua-duanya pulang-pergi setiap hari. Artinya tidak indekos di Siantar. Nah berdasarkan pengalaman saya waktu SMA dulu, janjian yang paling logis untuk ketemuan adalah di terminal.

Kalau janjian di tempat lain sering nyasar. Butuh waktu lama dan kendaraan umumnya belum tentu lancar. Jadi buat kami berdua (sekali lagi, ini hanya contoh), terminal adalah tempat yang paling dirindukan. Efisien dan strategis.

Lagipula, dugaan saya banyak juga cinta yang bersemi di Terminal Siantar ini. Makanya ada orang Tambun Raya kecantol sama orang Nagojor, orang Balata jatuh hati sama orang Tiga Bolon dan seterusnya. Terminal yang jadi tempat bertemu setiap hari, membuat pepatah Jawa, Witing tresno, jalaran saka (baca:soko) kulino itu menemukan kebenarannya. Artinya, cinta yang tumbuh lambat laun akibat terbiasa (bertemu).

Oleh sebab itu, tidak fair kalau saya mengatakan terminal Siantar adalah terminal terganas di dunia. Ibarat makanan, seperti petai lah dia. Bau sih, tapi enak kalau ketemu lauk yang pas.

Tapi bukan hal-ihwal romantis itu belaka yang membuat saya merasa tidak fair menempatkan Terminal Siantar di tempat yang buruk. Setelah saya membaca beberapa buku Marketing (dengan susah-payah dan jumpalitan karena IQ yang pas-pasan) saya merasa Terminal Siantar perlu diberi apresiasi juga.

* * *

MENURUT bacaan saya, Marketing selalu merupakan ikhtiar yang tak berkesudahan, inovasi, eksperimen, persuasi dan bila perlu, melakukan terror ala preman .

Terminal Siantar menurut saya adalah laboratorium nyata mengenai berbagai gaya marketing. Saya yakin seorang mahasiswa S1, bisa meraih gelar Doktor bila saja ia ditempatkan di terminal itu tiga tahun penuh dengan mencatat dan mempelajari apa saja yang terjadi di situ. (Jadi bukan hanya William H. Liddle saja yang bisa meraih gelar Doktor Ilmu Politik dengan melakukan penelitian di P. Siantar )

“Ah, bercanda kamu.”

Mungkin Anda akan langsung menyergah saya ketika saya mengatakan Terminal Siantar sebagai laboratorium Marketing. Tetapi saya serius. Sebab begini lah ceritanya mengapa saya berkata begitu.

* * *

SYAHDAN, pada suatu hari setelah berhasil melepaskan diri dari rutinitas acara-acara adat di kampong halaman, saya bisa melampiaskan rindu menjelajahi Siantar yang saya kenal. (Taman Bunga – Jl. Asahan BDB- Terminal). Sorenya, saya terdampar di terminal Siantar seperti turis belel dari Calcutta. Kumal, capek dan bau matahari.

Saya memasuki bis SELAMAT, bis yang akan membawa saya ke kampung. Bis itu masih setengah kosong, supirnya entah kemana. Keneknya malas-malasan berteriak, “Sidamanik….Sidamanik…”

Saya memilih duduk di dekat jendela dekat pintu, ketika tiba-tiba seorang ibu mendekat. Ia meletakkan tampi berisi dagangannya persis di depan saya. Di sana ada lappet, lemang dan kue bolu. Sambil membolak-balik dagangannya, memperlihatkan sisi-sisi terbaik dari lemang yang ia tawarkan, dia bilang :

Baen ito. Nyion lomang on. Panas dope. Nakkin dope hualop on. Asa adong boanonmu tu jabu, tu eda dohot anggi niba i.Boru aha do tahe eda di jabu.

(Terjemahannya : Ayo Mas, ini lemang. Masih panas. Baru saja saya ambil. Nanti bisa dibawa pulang untuk kakak dan adik di rumah. Boru apa kakak itu?)

“Hubukkus ma ate. Tinggal on nama. Sotung sanga ngali-ngali.”

(Kubungkuskanlah ya. Cuma tinggal ini. Entar keburu dingin)

Terus saja ia berceloteh. Tiap kali saya cari alasan untuk menolak tawarannya, ia balas lagi dengan jawaban dan canda yang membuat saya makin terpojok.

Dan saya menyerah, merogoh kocek membeli lemangnya. Sesungguhnya dari tadi saya sudah ‘kalah,’ mungkin karena ia telah menyentuh hati saya dengan menyebut si kecil buah hati saya di rumah. Dalam hati saya mengagumi daya persuasi ibu ini.

* * *

KAWAN saya yang ahli motivasi mungkin akan menyebutnya seorang yang persistent. Seandainya ibu ini di-make up sedemikian rupa, didandani ala wanita karier dan sedikit operasi plastik pada kulitnya yang gosong kena matahari setiap hari, pasti lah pramuniaga kartu kredit di mal-mal yang manja-manja tak karuan itu bakal tereliminasi.

Saya juga akan bertanya kepada Kafi Kurnia, gaya marketing apa sebaiknya disematkan kepada cara begini.

Kalau Kafi sah-sah saja pake konsep Antimarketing, apakah ini juga termasuk antimarketing itu, karena dikembangkan dari jalanan, jalanan yang becek bukan ruang ber AC seperti ruang perkuliahan kaum MM –an itu?

(Bersambung)

=====================================================================

**Artikel ringan yang lucu, renyah dan inspiring ini aku comot dari blog sarimatondang.blogspot.com. Sarimatondang nama desa di Simalungun, kampung tercinta Eben Ezen Siadari. ebenezersiadari@yahoo.com

————————————————————————————–

www.tobadreams.wordpress.com

One Response to “Doktor Marketing “Lulusan” Terminal Siantar (1)”

  1. aku juga mantan sma kampus nomensen. punya cerita juga ……… tapi kali ini tentang persahabatan. kami berpencar semua ada yang keluar kota, proponsi bahkan negri…. mau denganr kisahku? bls dluh ya ke email ku biar aku kasi tau situs ku

Leave a Reply