batak itu keren

Orang Mandailing Bukan Batak

Posted on: 22 April, 2008

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience).

Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Oleh : Abdur Razaq Lubis

NAMA Mandailing sudah diketahui sejak abad ke 14, dan ini menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing, yang barangkali telah muncul sebelum abad itu lagi. Nama Mandailing tersebut dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M. Batak tidak disebut sekalipun dalam kitab tersebut.

Nama Batak itu sendiri tidak diketahui dengan pasti asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun. Tapi orang pedalaman sendiri tidak membahasakan diri mereka, Batak. Kemudian panggilan ini dipetik oleh pengembara seperti Marco Polo, Ibnu Batutah, dan diambil oleh Portugis dan orang-orang dari atas angin dan bawah angin, hinggalah ke ini hari.

Bila Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, sekaligus mereka juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Persepsi Belanda terhadap orang-orang pedalaman termasuk terhadap bangsa/umat Mandailing dipengaruhi oleh persepsi kesultanan-kesultanan Melayu dan Minang, dan orang-orang pesisir, yang mereka dului berinteraksi.

Lama-kelamaan memBatakkan bangsa/umat Mandailing membudaya dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda hinggakan sesetengah orang Mandailing sendiri mulai melihat diri mereka dari persepsi penjajah yang melihat dari kacamata Melayu. Bangsa/umat Mandailing dikatogerikan bersama-sama dengan bangsa Toba, Pak-pak, Dairi, Simalungun dan Karo untuk tujuan administratif umum di samping menjadi sasaran zending/Kristenisasi.

Pandangan berikut dari sarjana-sarjana Barat seperti Lance Castles adalah tipikal :

“The use of ‘Batak’ as a common label for these groups (Toba, Mandailing dan Simalungun) as well as the Karo and Dairi has a chequered career. Linguists and ethnologists have always found the term necessary because of the strong common elements in all these societies. At some periods, however, those who were converted to Islam, especially Mandailings, have sought to repudiate any association with the non-Muslim Tobas by rejecting the Batak label altogether. This tendency has been strongest among Mandailing migrants to the East Coast of Sumatra and Peninsular Malaysia.”

(Pengunaan istilah ‘Batak’ sebagai label yang umum untuk kelompok-kelompok ini (Toba, Mandailing dan Simalungun) sebagaimana juga dengan Karo dan Dairi mempunyai sejarah yang berpetak-petak. Ahli-ahli bahasa dan etnologi senantiasa mendapati bahwa istilah ini merupakan istilah yang diperlukan dikarenakan adanya elemen umum yang kuat di dalam tiap-tiap kelompok ini. Pada periode tertentu, mereka yang kemudian memeluk Islam, terutama orang Mandailing telah berusaha untuk tidak dihubungkan sama sekali – hubungan dengan non-Muslim Toba dengan menolak label Batak secara keseluruhan. Kecenderungan ini telah terjadi terkuat di antara orang Mandailing perantauan di Pantai Timur Sumatra dan Semenanjung Malaysia).

Sementara sarjana Barat seperti Susan Rogers Siregar, agak peka dan mengerti sedikit.

“Much of the Western literature asserts that there are six major Batak cultures: Toba, Karo, Dairi-Pakpak, Simalungun, Angkola, and Mandailing. This division into ethnic units is somewhat misleading, however, since villagers often have little use for such general words as ‘Angkola’ and identitfy themselves in much more local terms as members of a ceremonial league or a group of village clusters. The sixfold ethnic division may reflect relatively new ethnic designations as members of different homeland groups come into contact and competition with each other”.

(Kebanyakan literatur Barat menegaskan bahwa ada enam budaya Budaya yang utama: Toba, Karo, Dairi, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandailing. Pembagian ke dalam beberapa kelompok-kelompok etnik ini, menyesatkan, lantaran penduduk desa umum tidak banyak menggunakan perkataan seperti ‘Angkola’ dan mengidentifikasikan diri mereka dalam istilah yang lebih lokal sebagai ‘anggota dari perhimpunan adat’ atau sebuah kelompok perkampungan. Pembagian enam etnik tersebut mencerminkan secara relatif penunjuk-penunjuk etnik baru sebagai bagian dari kelompok-kelompok pribumi yang berbeda yang belakangan bertemu dan bersaing satu sama lain)

Belakangan, sarjana-sarjana Indonesia (Indonesianists) dan antropolog terus memakai istilah Batak dengan alasan “useful” (berguna) dan “necessary” (perlu). Pada akhirnya, sarjana-sarjana yang kononnya, menyelidik secara netral dan objektif, sebetulnya bertanggungjawab mencipta identitas Batak dan memperkuat identitas Batak. Malah ciptaan mereka itu, mencorak dan mewarnai garis-garis besar ilmu mereka sendiri. Maka pemisahan Batak-Melayu itu berkepanjangan hingga hari ini.

Bangsa Mandailing dimelayukan Inggris

Kalau penjajah Belanda melabelkan orang Mandailing sebagai Batak, penjajah Inggeris melabelkan orang Mandailing sebagai “foreign Malays” (Melayu dagang). Di satu pihak, orang Mandailing disebut Batak Mandailng, dan di pihak yang lain, disebut Melayu Mandailing.

Penjajah Inggeris memakai stilah “foreign Malays” untuk merujuk kepada orang Mandailing dengan alasan kemudahan administratif (administrative convinience). Pada mulanya, kategori Mandailing dan Batak terpisah dalam sensus-sensus British Malaya, kemudian kedua kategori tersebut dihapuskan menyebabkan orang Batak maupun orang Mandailing memilih masuk Melayu’ atau menjadi Melayu dalam pengambilan sensus.

Meskipun berabad-abad orang-orang Batak sudah ‘masuk Melayu’, pemisahan Batak-Melayu terus kekal. Proses memelayukan orang-orang Batak termasuk bangsa/umat Mandailing yang dikategorikan sebagai sub-Batak itu, berkelanjutan hingga kini. Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa lain di Sumatra Utara supaya bertuankan Batak? Apakah muslihat dan strategi penjajah dan sarjana-sarjana Barat mau menghapuskan kemajemukan kebangsaan bangsa-bangsa Nusantara yang kedapatan di Semenanjung supaya bertuankan Melayu ?

Bermula dengan rekayasa sosial engineering kolonial Belanda dan British, disusuli proses Malayanisasi (kemudian Malaysianisasi) dan Indonesianisasi yang berlaku sejak dari abad ke 19 sampai sekarang menerusi pendidikan nasional, polisi kebudayaan nasional dan nasionalisme Melayu dan Indonesia. Ciri-ciri khusus kebangsaan bangsa/umat Mandailing seperti bahasa dan aksara, digugat dan kemudian terhapus sama sekali atas nama asabiah (fanatik perkauman) pembangunan nasional, identitas nasional dan kesatuan nasional.

Rumusan
Pada tahun 1920an, alim ulamak dan pemuka-pemuka Mandailing telah memprotes percobaan orang-orang Batak-Islam termasuk orang Mandailing yang mengaku Batak, untuk dikuburkan di tanah perkuburan Sungai Mati. Alim ulama dan tokoh-tokoh Mandailing berhujah bahwa wakaf tanah perkuburan Sungai Mati hanyalah untuk jenazah-jenazah orang-orang Mandailing saja. Orang-orang Batak khusus Angkola termasuk Mandailing yang mengaku Batak, tidak pantas dikuburkan di pekuburan itu.

Pejuang-pejuang kebangsaan bangsa Mandailing membawa kasus/kes ke mahkamah syariah Sultan Deli dengan keterangan bahwa tanah perkuburan bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan, adalah semata-mata untuk bangsa Mandailing. Mereka yang berbangsa selain Mandailing, tidak boleh dikuburkan di situ. Mahkamah syariah Sultan Deli mendeklarsi bahwa bangsa Mandailing terpisah dan berdiri sendiri dari bangsa Batak. Kemudian bangsa Batak membawa kasus tersebut di mahkamah sibil di Batavia, Jawa. Mahkamah tersebut, mahkamah tertinggi di Hindia Belanda mendeklarasikan bahwa bangsa Mandailing bukan Batak.

Kasus jati diri tersebut dibukukan oleh Mangaradja Ihoetan dalam buku Asal-Oesoelnja Bangsa Mandailing (Pewarta Deli, Medan, 1926). Dalam pengantarnya kepada buku itu, Mangaradja Ihoetan menjelaskan maksud buku itu disusun “…hanjalah kadar djadi peringatan di-belakang hari kepada toeroen-toeroenan bangsa Mandailing itoe, soepaja mereka tahoe bagaimana djerih pajah bapa-bapa serta nenek mojangnya mempertahankan atas berdirinja kebangsaan Mandailing itoe. Dengan djalan begitoe diharap tiadalah kiranja mereka itoe akan sia-siakan lagi kebangsaanja dengan moedah maoe mehapoeskannja dengan djalan memasoekkan diri pada bangsa lain jang tidak melebihkan martabatnya”.

Catatan Raja Huta :

Artikel ini aku kutip sebagian dari tulisan berjudul “Bangsa Mandailing Bukan Batak dan Tidak Melayu”. Aku temukan di blog bumibebas.blogspot.com. Di blog itu banyak ditemukan artikel mengenai sejarah dan kehidupan orang-orang Mandailing yang tinggal di Malaysia.

link artikel :

http://bumibebas.blogspot.com/2007/06/bangsa-mandailing-tidak-batak-dan-bukan.html

98 Tanggapan to "Orang Mandailing Bukan Batak"

Kalau kaya dari sipirok… kalau miskin dari toba…
ah biasalah halak hita ini,,, mencari mana yang enaknya aja….

Kalau memang mandailing tidak mau dikelompokkan batak ya sudahlah? Gitu aja kok repot-repot?

Setahu saya, sebagian dari suku Karo juga tidak mau digolongkan sebagai etnis Batak disamping karena mereka mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu ‘Kalak Teba’ (‘Orang Toba’ – maksudnya mengacu pada puak Batak Toba). Jadi mereka akan mengatakan sebagai ‘Orang Karo’ saja.

Beberapa orang Mandailing yang telah lama mukim di Medan dan tidak lagi mengamalkan adat istiadat kampung/Mandailing juga cenderung menjadi Melayu (Islam). Sedangkan di Malaysia istilah Melayu adalah bukan etnis tetapi ras, yaitu untuk membedakan dengan ras Cina dan India. Jadi ras sawo matang (Jawa,Melayu,Bugis, Kelantan, Minang, Batak, Mandailing, Aceh, Banjar etc) akan masuk kategori orang Melayu.

Wallahualam.

Memang Mandailing itu terkenal ahli politik dan licin dan sedikit opportunis dan hipokrit. Saat Melayu pegang tampuk kekuasaan ya ngakunya Melayu. Waktu Melayu dihujat sebagai antek Belanda saat Revolusi Sosial Sumatera Timur, ramai-ramai pasang Marga dan ngaku orang Batak. Pada waktu pegang kekuasaan baru timbul cauvenismenya. Ngaku bukan Melayu bukan Batak. Mungkin kalau dibiarkan mau membentuk propinsi Mandailing pula.

tolong di bedakan… mandailing dengan sipirok/angkola….
sering kali … keliru…
dan menyamakan mandailing = angkola/sipirok,,,,

“Nama Batak itu sendiri tidak diketahui dengan pasti asal-usulnya. ”

dari sini aja udah jelas untuk tidak usah dipeributkan selanjutnya. Mauliate

+iR+
Seorang Mandailing

Mau jadi orang Batak atau bukan, biarkan sajalah, asalkan tidak menjadi penghalang untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dalam hidup dan kehidupan ini, karena itulah yang terpenting. Mari kita mendahulukan yang utama.

Batak maju, Mandailing maju, seluruh daerah di Nusantara ini maju, itu berarti Indonesia adalah Negara Maju.

Hidup Indonesia! Hidup Alamnya (hutan, danau, laut, gunung tidak ada yang di rusak)! Tidak ada lagi masyarakat yang tidak bersekolah, tidak ada lagi masyarakat yang makan nasi aking, dll. Sekali lagi, “Hidup Indonesia Raya, Rakyat Adil Makmur Sentosa”

Menurut pakar Antropologi Koentjaraningrat, ada beberapa elemen pokok yang harus dicermati dalam menentukan hubungan antar etnik atau suatu suku bangsa. antara lain: bahasa, adat istiadat, sistim kemasyarakatan, dan lain-lain.

Akomodasi , asimilasi , akulturasi dan integrasi merupakan proses-proses sosial yang perlu diperhatikan dalam rangka studi hubungan antar suku-bangsa.

Nah yg menjadi pertanyaan, jika Mandailing ialah suatu suku bangsa yg berdiri sendiri dan diluar Batak. Mengapa ada dalihan natolu, ada marga, dan sbgnya.

Dan M.O Parlindungan juga pernah membahas perjalanan beberapa marga asal dari daerah toba ke daerah mandailing. katakanlah mereka ialah kaum pendatang( klan marga siregar, hasibuan, nasution,dll) lalu siapakah orang Mandailing asli??.

Apakah hubungan Abdur Razak Lubis dengan Martinus Lubis (Pahlawan Nasional). To you all Bataks, peliharalah silsilah anda,, supaya tau akar anda siapa dan dimana. Jesus dalam alkitab dicoba ditarik akarnya ke Adam demikian juga Nabi Muhammad, maksudnya saya kira supaya jelas keturunannya, biar dibilang bukan anak jampang (haram) atau supaya jelas kakek moyangnya.
Buat pak Abdur Razak daripada buka lietartur Belanda dan Inggris coba lah cari pustaha Batak siapa tau membantu. Atau all you Indonesia researcher khususnya para sejarahwan jangan terlalu anyak tidur biar kalian tidak diombangambingkan orang Arab dan Eropah. Selamat mencoba!

Masyarakat Mandailing yang ada di Negarakertagama itu bukan leluhur langsung masyarakat mandailing sekarang, candi2 yang ada di sana, tulisannya bukan bahasa mandailing ato batak Mandailing, jadi masyarakat Mandailing kertagama tersebut boleh jadi orang2 India dan Lubu yang punya tradisi bikin2 Candi sedangkan Marga Lubis dan Nasution datang kemudian mnenggantikan mereka
Sebenarnya Mandailing ato Batak itu sama, sebelum masuk Islam ato Kristen sama2 penyembah leluhur (sipelebegu) namun sejak serangan Padri entah kenapa sodara2 kita orang mandailing memilih meninggalkan kata Batak dan memakai identitas baru Mandailing saja.

Setuju sekali tanggapan dari Bang Sahat, Ngln dan Bang SALNGAM terhadap tulisan dari Abdur Razaq Lubis ini. Perbedaan-perbedaan yang menjadi landasan anggapan bahwa Mandailing bukan Batak merupakan usaha-usaha yang mengarah pada pemecahan persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia.
Saya semarga dengan Pak Abdur Razak tetapi saya mengakui Mandailing merupakan bagian dari suku Batak dan bangga dengan kemargaan saya, karena marga Lubis merupakan salahsatu marga Batak dari Mandailing. Horas!!

Horas,
Itu komentar si Abdur Rasak lubis aja itu, terserah, bacalah pustaha Batak,
jangan literatur penjajah aja, seperti kata SALNGAM.
Mulai dari kecil, Saya udah Batak, biarpun saya di daerah mandailing.
To@Nalda
Mandailing itu tidak opportunis dan hipokrit, itu menurut mu aja itu, mana sumbernya, jangan memojokkan BATAK MANDAILING.
To@Srikandini
Kelihatannya nggak keliru tuh, Kelihatannya orang udah menganggap bagian selatan masuk Batak Mandailing aja, ha-ha
To@Humbang Hasundutan
Benar Lae, Mau jadi orang Batak terserah ya
Hidup BATAK

@M.Abduh,Nasution

justru karena udah terjadi generalisasi terhadap sipirok/angkola terhadap mandailing maka hal ini perlu di luruskan, jgn malah persepsi yang salah ini yang di lanjutkan.

TAPSEL memiliki 2 sub etnis mayor yaitu sipirok/angkola dan mandailing.
walopun tetap memiliki ciri yang sama yaitu :
– dalihan na tolu
– bermarga
– mayoritas muslim
tp ada beberapa perbedaan khususnya dalam hal partuturon .

jadi kalo di bilang TAPSEL = MANDAILING… itu jelas SALAH
karena di tapsel ada sipirok/angkola dan mandailing
tapi kalo di bilang MANDAILING =TAPSEL ….itu baru BENAR

hmmmmm….. ternyata di jaman modern gini masih saja ada orang-orang pengikut ajaran adu domba,kita bisa terpetak2 dan terkotak kotak gini gara-gara ulah si bottar mata itu nya,jangan kita saling menyalahkan,masalah org mandailing masuk islam dan akhir nya meninggal kan adat batak itu masalah ideologi dan penggangan hidup setiap individu,sekarang gimana cara menggabungkan kembali individu2 tersebut menjadi sebuah negara kerta bataknes yang berlandaskan dalihan na tolu,dan berpegang teguh pada prinsip habonaron do bona, dan mempunyai cita2 hagabeon dan hamoraon,juga memiliki semangat gotong royong si pesikap kuta kemulihanta atw marsipature huta na be… gitu aja kok repot

^^
Bah!! si Dori…keonggg….cemmana kabarmu lek?.

Btw, apakah artikel ini ada hubungannya dgn proudness??.
Ada satu isu yg sering diperbincangkan, bahwa diantara semua puak Batak sering bersaing satu dgn yg lain. Hal ini sadar atau tidak sadar memang banyak terjadi.

Semua puak Batak berdiri sama tinggi-egaliter, jangan menganggap puak ku lebih hebat dari puakmu dan memisahkan diri karena merasa lebih…..

Horas, Mejuah-juah, Njuah juah.

Bah ada si sahat.. sahat lagi sahat lagi..kabar ku baek baek aja lae, yah udah lah kalo bukan sekarang kapan lagi org batak bisa bersatu padu untuk memajukan indonesia kita yang udah jelek dimata dunia.sekarang kita mending ngaku sebagai org indonesia aja lah br marga yg kita bawa itu cukup sebagai identitas aja kalo kita tuh orang batak.. suku2 laen di indonesia ini gak bakal bisa bedain mana batak karo,batak simalungun,batak toba and batak laen nya itu.yang tau yah cuma kita kita aja asal kita dah punya marga org pasti anggap kita org batak dan gak bakal bilang batak apa….hmmmmm kek nya gitu aja lah yah dari aku and buat teman2 disini maen2 ke blog ku juga yah http://bona-gallery.com/dorigirsang

@M.Abduh, Nasution,
Keta hita marsitogol lae, hita endehon Ingon Mandaliling godang i.

yang mo marsitogol ma bang ABDUH NASUTION…. ketemu di TD Cafe aja mal ming yahhh…..

ito raja huta… masih ada tempat kososng di meja 19????

k’ mana pula si abdul razak ini. masa orang mandailing dibilang bukan batak?
mandailing itu kan cuma nama daerah. sama kaya sipirok, toba, karo, simalungun & dairi. jadi jangan dibilang klo mandailing itu bukan batak…..
sebenarnya bagi orang “parselatan” mandailing itu hanya nama daerah kecil saja (panyabungan, kutanopan, muarasipongi).

jadi saya dulu baru2 ke medan sangat sangat heran klo saya dibilang orang mandailing karena saya sendiri orang sipirok . jika teman2 berkunjung ke sipirok, sidimpuan atau mandailing, teman2 tidak akan pernah dengar kata ” saya orang mandailing”, tapi yang ada kata ” saya orang batak”, dan kami sendiri bangga dengan identitas kami sebagai orang BATAK…….

klo si abdul razak bilang mandailing bukan batak, saya rasa itu hanya akan memecah belah kita semua……….
jangan terpengaruh lae, appara,pal, kahanggi, tungggane,ito.
HORAS…..
HIDUP BATAK………………!!!!!!!!!!

@ srikandini

Sudah sejak empat bulan yang lalu kursinya Ito di Meja 19 selalu kosong. Tenang aja, Ito nggak perlu daftar ulang kok. Tinggal bilang, “ahu srikandini” pasti beres hehehe….

Horas.
Raja Huta

apapun itu..mau mandailing or batak saja…kita tetap serumpun…jgn jadikan perbedaan pendapat itu menjadi suatu perpecahan…

horas ito…..

gila keren banget mal ming di TD yah,,, aku dan lae mu memandang dari pojokan gimana gilanya atmosfer TD tadi malam….

hu bereng tu meja 19 ,,, sudah penuh … next time ito… aku akan langsung duduk dgn segelas tuak di meja 19 heheheheh

2 jam berlalu tanpa terasa, hilang semua stress selama hampir 1 bulan ini, … serasa reborn,,,,

di TD semalam,,, aku menyanyi, tertawa, menangis , dan ada satu rasa yg semakin menyentak di dada ini,,,, seperti owen bilang….. I JOU AU MULAK,,,, nga loja hulala na papungu hepeng i jakarta on… di tambah ulasan mas bondan ttg kuliner … RASA ITU MAKIN MENGGILA……

sejak 4 bulan lalu aku capek merayu rayu lae mu untuk mengantar dan menemani ku ke TD, but after semalam…. hahahahahahahahaha…. dia yang bilang… lain kali kita kesini lagi yah… mal ming di TD aja kita ..wakakakakakakakakak!!!!!!

BRAVO PIKKI….. GO BATAK GO……………….!

Si Abdul razaq itu punya website macam2 dan yang paling utama http://www.mandailing.org kalo mo diskusi ama dia:
arlubis@gmail.com ato arlubis@mandailing.org

Saya enggak ngerti antropologi, enggak ngerti masalah sukubangsa. Tapi tulisan diatas cuma melihat dari satu sisi sempit. Menurut saya yang awam ini, pengelompokan sukubangsa tidak bisa dilihat dari satu sisi yang sempit.

Kalau memang sudah bisa dibuktikan bahwa karakter awal dari Mandailing sangat berbeda dengan Batak, ya berarti Mandailing memang bukan Batak. Apa ada bukti perbedaan karakter ini ??.

Kalau persamaannya, kayaknya banyak. Kalau begitu tulisan Abdur Razaq Lubis itu, ya cuma cari sensasi aja

Dia sedang mencari jati diri, dan (maaf) salah,… kacian deh….

Ketabo dongan tu Sidimpuan, bo…

saya kira banyak faktor-faktor yang perlu dikaji dalam menelusuri hubungan etnik antar suku bangsa, salah satu metode yang sederhana adalah dengan melihat persamaan dan perbedaanya. Apabil kita cermati beberapa indikator sosial, saya kira lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Misalnya marga Siregar, kedua marga ini adalah marga yang termasuk dominan baik di Batak Toba maupun Mandailing tetapi hampir semua marga Siregar sepakat bahwa asal muasal mereka adalah dari Muara (Toba). Demikian juga dengan adat-istiadat, bahasa, dll. Apabila kita melakukan kajian hubungan antar etnis hanya berdasarkan pengklasifikasian yang dilakukan oleh bangsa kolonial pada masa penjajahan, saya kira cara itu kurang sempurna, karena kebijakan2 dan tindakan bangsa kolonial pada masa itu hanya demi kepentingannya saja, bukan demi kebenaran.

payah kali si Razak ini, bukan bangga dia sebagai orang Batak, malah bikin malu! Kalau dia tidak mau dianggap Batak ya suka-suka dialah, tapi jangan bilang orang Mandailing itu bukan Batak… Kalau sistem kekerabatan yang dipakai dalihan na tolu, ya hanya suku Batak lah namanya… Jadi apa mau kau disebut, Razak? maunya disebut orang Mandailing berasal dari Malaysia?! bah!! payah kau Razak bikin malu saja…

Setelah baca situsnya si Razak ini (www.mandailing.org) sedih sekali rasanya kalau orang Batak Mandailing dibuatkan cerita2 palsu seperti itu.. Jadi untuk Bataker, janganlah sampai kena omongan2 macam Razak ini, jaga persatuan kita sesama Batak.. gak usah peduli sama cerita2 sejarah palsu… jangan petak2an orang Batak apa, asal dari mana.. jelas moyang kita sama dari Si Raja Batak… orang Batak itu paling kompak walau ada beda agama dan wilayah..!!

Horas, Mejuah-juah, Njuah juah.

HIDUP BATAK!!!

jangan sok tau kalian semua,kami orang Mandailing memang tidak sama dengan kelian,kami punya adat sendiri dan tambo sendiri

hormati itu!!!
baca di:

http://duakoto.wordpress.com/2007/12/26/tambo-radja-radja-mandailing/

http://edinasution.wordpress.com/

kalian bacalah!!! kami memang bukan Batak
Sekian
Humala

Ah bisa-bisa nya dia saja itu.. karena dia itu orang Malaysia, maunya dia suku Mandailing diakui kalau bersal dari Malaysia… baca ceritanya saja bikin ketawa.. masa semua mau kalian akui “punya Malaysia” ???

@ srikandini

Menyesal…menyesal kali aku karena tidak bisa ke TD pada malam minggu yang sangat memorable buat Ito dan Lae.

On ma tahe silangkona hita angka pangarantoon ate, jonok be do nian hita, alai ndang boi dope marjumpang. Boa bahenon Ito. Pos do roha naingkon pajumpang do hita jala rampak marmitu di cafe ni Si Pikki hehehe…

Laporan on the spot Ito Srikandini dari TD adalah salah satu the best yang pernah dipublikasikan di dunia maya. Rasanya aku ikut terbawa dalam atmosfir yang Ito gambarkan. Sangat menyentuh dan menghanyutkan.

Kita aturlah kapan-kapan untuk kopdar di TD. Si Pikki dan kawan-kawan yang lain sudah tak sabar untuk jumpa dengan Ito Srikandini dan lae i.

PS : untuk Si Pikki, tolong dikonfirmasi apa yang kukatakan ini, supaya percaya ito kita parsipirok ini hehehe…

Horas
Raja Huta.

@ Humala..

Tidak semua juga orang Mandailing juga merasa dihormati kalau dibilang berbeda asal-usulnya dari orang Batak, saya justru merasa terhina bila dikatakan orang Mandailing punya asal-usul sendiri sampai dibuatkan karangan tentang tarombo dan asal-usul sendiri sendiri, yang bebeda dari kita itu hanya sebatas wilayah, adat khas daerah dan mungkin agama. Semua sub suku batak lain juga punya adat khas daerah sendiri bahkan pakaiannya pun berbeda namun hal tersebut bukan alasan untuk adanya perpecahan dari rumpun Batak.

hormati itu!!!

Bagaimana bisa percaya dengan tulisan mengenai tarombo dan asal-usul Mandailing kalau penulisnya bukan bangsa kita? tapi orang Malaysia (benar seperti CLubis katakan sebelumnya) yang referensinya juga berdasarkan cerita2 Melayu atau datang dari Belanda.

Kalau Humala termasuk seperti Abdur Razaq Lubis atau Edi Nasution yang menganggap memiliki asal-asul dan tarombo yang berbeda tidak masalah kok.. kalian boleh berpikiran seperti itu, tapi jangan anggap semua orang Mandailing sependapat akan hal itu.

Jagalah budaya kita, jangan mau kita terpecah-pecah karena cerita dari “negeri sebrang”, cari fakta bukan percaya hanya dari dongeng.

Salam damai antar semua bangsa Batak,

Horas!!!

kalo bisa dari New York, Eropa, atau Mars sekalian dibikinnya orang mandailing itu,. biar keliatan spesial gitu kan??

Ke laut lah kau razaq. Gak ngerti kau artinya Batak . Batak itu jelas bukan pure genetically satu ras tertentu, tapi orang2 yang dipersatukan atas ADAT DALIHAN NA TOLU yang hanya satu2 nya di Asia bahkan di Dunia, yang tidak menerapkan sistem feodalisme sejak zaman dahulu kala. Orang kaya, miskin, pintar, bodoh , semua di hargai secara setara oleh adat ini.

Karena originalitas sistem sosial itu lah, maka orang batak di pertemuan2 adat tidak menyebut dirinya sekedar “orang batak”, tetapi “BANGSO BATAK” .

@ abdulah harahap

bikin survey aja langsung ke kab madina tanya orang2 situ pada ngaku batak kaga? aku jamin enggak, karena mereka pada ngaku batak mereka pasti mendukung PROTAP!!! dan setauku orang Sipirok Angkola n PAdanglawas ga ada tuh yg ngaku Batak, karena kalo ngaku pasti 100% jamin dukung PROTAP,tapi realitasnya hehehe,mana ada yg mo gabung ama PROTAP2an nya kalian itu
kalo mereka mengaku batak paling2 yg marganya harahap n siregar doang n mereka2 yg terlalu banyak begaul ama Batak sehingga mau menyebut diri mereka Batak padahal dalam hatinya tidak

Sekian

Las marohanta alana nunga laho parselatan tu hamagoan-na, alana nungnga tar-surati dibuku Hangoluan, molo nunga tarsurat dang tar ambatan.
Jadi holan hita TOBA ondo nalayak dohonon “BATAK”.
“BATAK S.S.A”

@Humala
Soal dukung-mendukung PROTAP, dijadikan alasan bahwa Mandailing bukan Batak, sama sekali tidak masuk akal. Itu tidak bisa dijadikan indikator bahwa Mandailing bukan Batak. Jadi dari sini saya tau, cara berpikir anda, tidak rasional, sama tidak rasionalnya Razak Lubis yang mengatakan Mandailing bukan Batak.

Saya sendiri tidak setuju pembentukan PROTAP, tapi itu OOT (out of topic). Oalaaaa, segitu aja alsanmu…..

@ Humala

jangan bawa bawa urusan PROTAP disini lah…. aku aja yg BORU SIPIROK …. BANGGA DGN HABATAKON HU…. SUAMI KU yang MARGA NASUTION (asli mandailing0 juga BANGGA DGN HABATAKON….

Urusan habatakon… menurutku ngk ada hubungan dgn PROTAP ….

kalo kaw ingin ingin diskusi ttg habatakon di tapsel dan sumbernya…. silahkan minta ma ito ku si raja huta imel ku… kita bahas ini di JAPRI OKE!

@ Humala..

cobalah berfikir lebih logis, berwawasan lebih luas, Humala ini tidak tinggal dikampung saja kan? maka dari itu jangan berfikir seperti orang kampung pedalaman yang miskin pengetahuan dan wawasan… seharusnya orang2 perantau seperti kitalah yang membuka wawasan dan fikiran mereka mereka, dan sedikit tambahan saja kalo semua keluarga ku dan semua orang dikampung aku mengaku juga bangsa Batak.

Masalah PROTAP itu out of topic, tidak perlu dibahas disini.

Humala mohon jaga perasaan marga2 lain, termasuk Harahap dan Siregar karena marga2 itu juga bersaudara dengan marga-marga lain seperti Lubis, Nasution, Pulungan, dsb…

Seperti yang saya katakan sebelumnya kalau Humala, Abur Razak, dkk mau menanganggap punya asal moyang sendiri entah dari Malaysia, New York, atau Mars terserah kalian! Simpanlah dongeng2 tersebut dalam hati kalian, tapi orang Batak Mandailing yang punya pikiran logis, dan wawasan luas tidak akan percaya itu dongeng2 jenaka seperti itu!

Pembuatan dongeng2 tentang asal, moyang Mandailing tidak didasarkan dari sumber yang bisa dipercaya dan hanya merupakan langkah2 penjajah untuk memecah belah keutuhan bangsa Batak dan mencuri budaya kita. Di situs2 Malaysia ditulis bahwa Mandailing merupakan rumpun melayu yang berasal dari Malaysia. Jangan sampai mereka curi dari kita!! Ayolah Bataker jaga keutuhan adat budaya kita, sehingga bangsa Batak selalu menjadi kutuhan yang holistik.

Horas batak mandailing !!!!

Horas bangsa batak !!!!

Hehehe maaf ya teman2 berarti provokasi saya berhasil, saya hanya ingin membangkitkan kebanggaan Batak dari orang2 Tapanuli Selatan mengenai kebatakan, ternyata hasilnya bagus juga ….

Buat yang udah keburu kepancing jadi emosi maapin ya terutama buat M Abdullah Harahap HORAS,moliate godang ternyata masih ada orang2 Mandailing yang mengaku Batak Mandailing sip dah…seperti yang ditunjukan oleh Lae Ibnu Avena Matondang di website:

http://avena-matondang.blogspot.com/2007/08/mandailing-batak-analisis-mandailing.html

Buat Masalah PROTAP ya itu mah OOT
Masih banyak hal2 yang bisa kita rekonsiliasikan

HORAS JALA GABE

@ Humala

Hahahaha… Humala ini bukan main jailnya ya, masa kami orang Batak Mandailing ini masih harus di tes kebatakannya… tentu saja kami memperjuangkan kebatakan kami :) Tapi gak apa-apa kok, supaya bangsa Batak dari wilayah mana pun itu selalu kompak dan bersaudara, lebih “berani” membanggakan kebatakannya dan tidak muncul lagi orang-orang macam Abdur Razak, dkk !

HORAS Humala!!!

Mauliate Humala buat link dari saudara kita Avena Matondang. Bukan main saya kagum baca tulisannya. Suatu cerminan tulisan dari halak Batak Mandailing yang berwawasan dan pengetahuan luas!!

Horas batak mandailing !!!!

Horas bangsa batak !!!!

kalo menurut ku mengapa sebagian orang mandailing tidak mau dibilang batak memang banyak alasannya
1. memang didalam orang mandailing itu sendiri banyak yang bukan batak alias beli marga
2. Orang mandailing itu sendiri banyak berinteraksi dengan orang luar termasuk, minang, melayu, aceh dan cina
3. Aku sendiri juga bingung dengan sifat orang mandailing yang tidak pasti pada saat tertentu mereka mengaku batak dan disaat yang lain mereka tidak mau ngaku batak atau dengan kata lainnya begini kalo lagi banyak orang batak yang hebat dan bangga dengan sukunya lagi berkumpul istilahnya begitu kuat kebersamaan dan adatnya kemudian ada orang mandailing satu orang disitu mereka lantas ngaku batak mereka takut didiskreditkan

Orang Mandailing itu tidak konsekwen alias gak jelas
kalo memang tidak orang batak katakan seterusnya bukan orang batak
orang mandailing tidak punya pendirian, tidak tegas dan mencle – mencle
sebentar sebentar merasa orang batak sebentar – sebentar merasa mandailing

@ Dahlia Dalimunthe:

1. memang didalam orang mandailing itu sendiri banyak yang bukan batak alias beli marga

= Aku sebagai orang batak mandailing, sama sekali tidak setuju karena beli marga itu tidak hanya terjadi untuk sub-suku kami tetapi juga terjadi pada sub-suku Toba, Karo,Pakpak, Simalungun dan Angkola

2. Orang mandailing itu sendiri banyak berinteraksi dengan orang luar termasuk, minang, melayu, aceh dan cina

= Setuju, justru itu umumnya yang membuat kebatakan mereka menipis. Aku sebagai orang batak mandailing judah sedih melihat kealkuan mereka.. coba tengok lah yang selalu berteriak2 bahwa mandailing bukan batak dan membuat2 cerita sendiri akan sejarah mandailing itu adalah mereka yang tinggal di malaysia dan mengaku berasal dari mandailing! ( Coba buka http://www.mandailing.org )

3. Aku sendiri juga bingung dengan sifat orang mandailing yang tidak pasti pada saat tertentu mereka mengaku batak dan disaat yang lain mereka tidak mau ngaku batak atau dengan kata lainnya begini kalo lagi banyak orang batak yang hebat dan bangga dengan sukunya lagi berkumpul istilahnya begitu kuat kebersamaan dan adatnya kemudian ada orang mandailing satu orang disitu mereka lantas ngaku batak mereka takut didiskreditkan

= Aku tidak setuju dengan pernyataan seperti ini, mereka yang tahu akan bangsa batak mandailing pasti akan mengaku juga orang batak dan bangga jadi orang batak, dan mereka yang tidak bangga dan tidak mengakui adalah mereka yang miskin pengetahuan akan budayanya.

Orang Mandailing itu tidak konsekwen alias gak jelas
kalo memang tidak orang batak katakan seterusnya bukan orang batak
orang mandailing tidak punya pendirian, tidak tegas dan mencle – mencle
sebentar sebentar merasa orang batak sebentar – sebentar merasa mandailing

= Tiap individu punya pendirian masing2 akan kesukuannya dan itu hak masing2 kita tidak bisa memaksakannya. Menurutku biarlah mereka yang merasa bahwa orang mandailing bukan orang batak itu membuat dongeng2 sendiri tentang sejarahnya. Karena secara ilmu antropologi dan linguistik dapat dibuktikan bahwa semua orang batak dari sub-etnis nya itu dari satu keturunan. Lihatlah, sebagian besar orang batak mandailing itu bangga dengan kebatakannya, contoh: Jendral Abdul Harris Nasution, Parlindoengan Loebis, dsb..

saya sendiri termasuk orang batak mandailing yang sangat bangga dengan kebatakan saya dan saya!!

Horas!!

Kalau dilihat dari segi antropologi sudah jelas bahwa orang yang mendiami wilayah mandailing itu masih bagian dari etnis batak. Cerita2 tentang orang mandailing yang menceritakan bahwa orang mandailing berasal dari keturunan berbeda itu hanya legenda belaka bukanlah fakta. Dan mereka yang tidak mengakui mandailing itu bagian dari batak hanyalah mereka yang mau menelan sisasat penjajah dahulunya untuk memecah belah persaudaraan orang batak. Atau mungkin sekarang juga siasat orang Malaysia untuk bisa mengakui kalau orang mandailing juga berasal dari sana??

Bersatulah bangsa batak! jangan mau dipecah-belahkan!

@ Dahlia Dalimunthe

Gak perlu sewot melihat mereka yang tidak bangga menjadi bangsa batak, yang bangga lebih banyak kok!!

@ Dahlia Dalimunthe,

Jangan merendahkan orang dari mandailing dan hanya mencari-cari kekurangan saja, karena mereka juga berasal dari suku batak. Justru galanglah persaudaraan sesama Batak!

Kalau aku sih bangga jadi orang batak! kalo ditanya batak apa? batak mandailing! gak perduli dengan yang komentar lain

@ Dahlia Munthe

Kelihatannya dahlia munthe hanya bangga dengan kebatakannya sendiri ya? Apa semua orang batak lain (karo, pakpak, simalungun, angkola) setuju dibilang orang batak??

Biarlah hak masing2 berpendirian orang apa dia, dari mana dia!

Aku orang batak, batak mandailing! terserah orang lain mau bilang apa!

Horas!

Kalau kami yang orang Toba selalu menganggap orang mandailing itu saudara kami, tali persaudaraan terjadi karena semua bangsa batak berasal dari keturunan yang sama. Memang sebagian orang yang mengaku dari mandailing yang menganggap mereka bukan bangsa batak, umumnya mereka yang turun-temurun di tanah rantau. Beberapa alasan yang ada, umumnya dari masalah perbedaan agama dan ada pula yang percaya sejarah asal-muasal suku bernama mandailing yang dibuat atau dikumpulkan dari beberapa sumber, padahal sampai sekarang belum terbukti faktanya. Bah, menurut saya biarkan saja mereka yang berpendapat seperti itu. Lebih baik buat kita untuk mempererat tali persaudaraan dengan mereka orang dari mandailing yang merasa batak, sehingga semua Batak berani bangga dengan kebatakannya!!

Horas batak toba, batak mandailing, batak karo, batak angkola, batak pakpak!

Horas jala gabe!!!

Ada anekdot yang kurang sedap tentang saudara kita dari Mandailing ini, “…madung kayo ia Pane ma marga na ia, molo miskin ia Sitorus ma marga na ia”.
Saya kira hal ini natural untuk teori survival, khususnya mereka yang nyalinya nggak terlalu besar. Dari pandangan saya sebagai Indogenuous Tribe(Suku anak dalam/pedalaman) merantau keluar suku memang membutuhkan kiat untuk selamat. Malang juga nasib orang Batak yang di mandailing ini harus pula dirubah agamanya secara paksa (perang padri/Tuanku Rao), tidak seperti saudaranya yang dari dipedalaman Tapanuli Utara yang berubah keyakinannya secara sukarela.
Bagi kami marga Siahaan, kami mengaku bahwa marga Nasution itu adalah saudara kami seompung yang merantau. Tapi apakah semua marga Nasution mengakui itu, wallahualam. Kami marga Siahaan mengakuinya bukan karena marga Nasution hebat-hebat. Kalaupun hebat apa rupanya untungnya buat marga Siahaan?.
Menurut pengamatan saya, mungkin kebetulan pula saudara mereka yang bukan Batak Mandailing (Toba khususnya) dari segi keberagamaan , Mandailing memandang mereka sebagai Kafir. Jadi tidak enak bersaudara dengan kafir. Kita maklum sajalah. Horas

ada artikel provokatip nih,gile tega ya orang2 MAndailing Malaysia

http://duakoto.wordpress.com/2008/05/25/sejarah-mandailing/

http://rahimtahir.tripod.com/id9.html

@ SALNGAM

Asalamuallaikum, salam sejahtera,
Horas!!!

Saya berasal dari tanah Mandailing, dan saya bukan termasuk orang yang fanatik berlebihan akan agama sehingga tidak pernah beranggapan kalau agama lain selain agama saya itu salah. Saya selalu merasa suku Batak apa pun itu (termasuk Batak Toba) adalah semuanya saudara saya, tanpa sama sekali membeda-bedakan agamanya. Kata kafir dalam pandangan saya dari agama yang saya yakini yaitu agama Islam juga jauh sekali dari yang disangka oleh Lae SANGLAM. Kata Kafir menurut saya sama sekali bukan kata yang tepat yang ditujukan kepada orang yang berbeda agamanya dengan saya selama mereka menghormati agama saya, sama halnya seperti saya menghormati agama Lae SANGLAM. Dalam keluarga saya tidak semuanya beragama Islam tetapi juga sebagian Kristen karena dari Toba, mereka yang beragama Kristen adalah juga bagian dari keluarga saya dan saya sangat menghormati agama mereka. Kata Kafir (infidel) hanya diperuntukan kepada orang-orang yang membenci sehingga berusaha untuk menghancurkan agama saya. Namun pengertian tiap-tiap pemeluk agama terhadap ajaran agamanya bisa jadi berbeda-beda, karena semua itu tergantung dari sejauh mana individu tersebut dapat mencerna ajaran agama tersebut dengan baik. Saya yakin semua agama menuntun umatnya untuk melakukan kebaikan dan agama tidak pernah menyuruh umatnya untuk bermusuhan.

Saya merasa bersaudara dengan semua bangsa Batak karena meyakini bahwa asal muasal marga Lubis juga datangnya dari Toba dan sama sekali tidak setuju dengan tulisan-tulisan dari Abur Razak itu, sehingga marga Lubis pasti akan bersaudara dengan marga-marga Batak lainnya bila ditarik benang merah mengenai silsilah atau tarombo.

Semoga tulisan saya ini dapat membukakan wawasan kita semua sebagai bangsa Batak sehingga saling menghormati adanya kanekaragaman perbedaan dan selalu menjaga tali persaudaraan kita. Dan jangan risaukan sebagian orang yang tidak mau bersaudara dengan kita, mereka seperti itu karena mereka miskin akan pengetahuan.

Horas, Mejuah-juah, Njuah juah!!

Tulisan yang sangat tidak masuk akal dari Abur Razak ini. Lebih baik baca tulisan dari Avena Matondang yang diposting juga oleh Lae Raja Huta berjudul “Kajian Antropologi : Orang Mandailing Adalah Etnis Batak” daripada harus ribut-ribut mempermasalahkan Mandailing bukan Batak!

Horas!

buat lae Partomuan,

terima kasih buat link nya. Sungguh saya terkejut membaca isi link yang berisi dongeng konyol seperti itu dan setelah saya coba googling mengenai mandailing hasilnya hampir 100% berisi dongeng-dongeng jenaka mengenai asal usul sebuah suku yang menamakan Suku Mandailing yang hampir semua dibuat oleh orang Malaysia terutama si Abdur Razak ini. Semua dongeng dibuat sama sekali tidak berdasarkan fakta dan jelas bersifat profokatif, adu domba yang bertujuan memutus tali persaudaraan bangsa Batak.

Saya harapkan anak bangsa Indonesia terutama halak kita ini, ada yang membuat situs lengkap mengenai sejarah budaya suku Batak termasuk semua sub-suku Batak didalamnya (Toba, Mandailing, Karo, Angkola, Pakpak dan Simalungun) sehingga kita bangsa Batak memiliki sumber informasi yang dipublikasi secara BENAR mengenai budaya, sejarah dan adat istiadat suku kita ini. Dan juga besar harapan saya agar budayawan dan seniman halak kita mau mengangkat budaya Batak Mandailing agar budaya kita tidak “dirampok” lagi oleh orang2 Malaysia itu

“Ayo Viky angkat juga musik-musik Batak Mandailing ke dunia internasional!!”

Adanya perbedaan dari tiap-tiap sub-suku Batak bahkan perbedaan agama sama sekali bukan alasan untuk memutus tali persaudaraan bangsa Batak. Semua perbedaan itu dapat dijelaskan dengan ilmu antropologi dan linguistik yang justru hasilnya mengarah pada pembuktian bahwa bangsa Batak berasal dari satu keturunan.

Saya bermarga Lubis dari Mandailing, bersaudara dengan seluruh marga Batak karena marga Lubis juga turunan dari Si Raja Batak. Namun marga Lubis yang ASLI sama sekali tidak bersaudara dengan Lubis PALSU dari Malaysia yang memiliki asal-muasal sendiri seperti yang mereka katakan itu.

Pemikiran sebagian orang dari Mandailing untuk memisahkan diri dari bangsa Batak hanya didasari oleh rasa superior, primordialisme, emosi keagamaan berlebih!!

Perkuat tali persaudaraan bangsa Batak demi mempertahankan keutuhan Batak kita.

Horas!!

@Bpk. Humala,
Dalam komentar yang ketiga, bapak mengatakan bahwa komentar yang pertama dan yang kedua hanyalah sebagai provokasi untuk membangkitkan kebanggaan Batak dari orang-orang Tapsel mengenai kebatakan, dan bapak berhasil.

Akan tetapi pak Humala belum membuat pengakuan apakah bapak orang batak atau bukan. Kalau pak Humala adalah orang batak, apakah bapak bangga sebagai orang batak?

Terimakasih

@ hh
Ya banggalah broer! HORAS!
sekarang bagaimana dengan anda?

buat lae partomuan thx linksnya,mari kita serbu si DUAKOTO ini

tanggapan yang ditulis oleh gumanti R. Lubis itu benar. Saya buktikan sendiri dengan mengetik kata mandailing di google, hasilnya semua situs atau blog yang berisi tulisan Abdur Razak ini yang isinya sama sekali tidak benar.

Kekompakan sesama bangsa Batak dibutuhkan sekali untuk menjaga budaya Batak Mandaling dari pencuri alias Malaysia.

Jangan terima kalau kita dipecah-pecah oleh bangsa pencuri itu! bersatulah halak Batak Mandailing, perjuangkanlah budaya kita!! Buatlah situs dan blog orang Batak Mandailing yang berisi tulisan-tulisan yang benar berdasarkan ilmu pengetahuan dan fakta.

Pemutusan tali persaudaraan hanya karena adanya perbedaan agama merupakan pemikiran yang sangat konyol!

Horas!

Kami marga Lubis yang cinta tanah air dan bangga dengan kebatakan kami sama sekali tidak merasa bersaudara dengan MARGA LUBIS TEMPELAN yang ada di negeri pencuri itu!!

Mereka hanya pakai marga tempelan/palsu sama sekali bukan orang Batak Mandailing!

Mereka mengatas namakan marga-marga kami hanya untuk memecah belah tali persaudaraan kita semua sebagai bangso Batak!!!

Dari sebuah situs Malaysia (melayuonline.com) aku baca bahwa:

Abdur-Razzaq Lubis, is a sixth generation ‘Malaysian Mandailing‘, whose forebears migrated to the peninsula in the aftermath of the Padri War (1816-37). Lubis as he is known to friends, is an independent scholar.

He is the co-author of Raja Bilah, the Mandailings in Perak, 1875-1911 (MBRAS, 2003) resulting from a research project funded by the Toyota Foundation, and co-author of Kinta Valley: Pioneering Malaysia‘ Modern Development (Perak Academy, 2005). As an environmentalist and activist, he has written several works including Water Watch: A Community Action Guide (APPEN, 1998) and Jerat Utang IMF? Sebuah Pelajaran Berharga Bagi Para Pemimpin Bangsa – Khususnya Indonesia.

In 2001, he was awarded the Nippon Foundation‘s Asian Public Intellectual (API) Fellowship to carry out field work in Indonesia on the Politics of Indentity Construction: The Case of the Mandailing People. Abdur-Razzaq Lubis is the author of the website http://www.mandailing.org and author of The A-Z of the Malaysian Environment at http://www.surforever.com / sam/a2z/ a2z.html.

He is the Malaysian Representative of Mandailing All Clans Assembly (HIKMA) and Sumatra Heritage Trust (BWS).

Terbukti bahwa si Abur Razak ini bukan lagi orang Batak Mandailing tetapi orang Malaysia dengan embel-embel marga Lubis yang ingin mengambil suku Batak Mandailing buat orang Malaysia.

Wah terus terang saya nggak begitu paham dengan asal usul suku bangsa. Kata orang, saya keturunan Mandailing. Tapi banyak juga yang bilang saya ini keturunan orang Batak.
Alm. ayah saya bermarga Nasution, sedangkan alm. ibu saya asal Jawa Tengah.
Buat saya pribadi mau dibilang orang Batak kek, orang Mandailing kek nggak masalah…
Hanya saja, janganlah perbedaan agama dijadikan masalah. Sebagian dari kita terlahir sebagai orang Islam, sebagian lagi terlahir sebagai orang Kristen atau Hindu dsb…..so what gitu loh…?! Selama kita saling menghormati satu sama lain semua suku bangsa di tanah air ini akan tetap bersatu!

Horas!

Shalom,

We’d like to invite all of you to join our Web Site of the Hebrew Institute of Indonesia and the group too.

We serve as a Hebrew information and related such as Hebrew Biblical Studies, Cultural, Spirituality, Language, Politics and some Hebrew Literatures.

And also, Center for Hebrew and Jewish Cultural Studies (Pusat Kajian Kebudayaan Ibrani dan Yahudi).

Shalom

Join our group now:

http://groups.yahoo.com/group/Institut_Ibrani_Indonesia/

Harap Maklum saja, malaysia itu tukang Klaim..mulai dari Pulau, songket, rendang, Reog sampai Marga Lubis pun nanti akan di klaim..hehehe
PEcaaaaaaaattt dari marga lubis..tak sudiiiii..hihihih

@salngam.
Saya orang mandailing dan saya muslim tulen sekaligus BATAK tulen. Masalah orang mandailing memeluk islam karena di serang kaum paderi atau orang toba memeluk kristen karena sukarela, menurut saya, seharusnya argumen yang anda tawarkan harus fair dan mempunyai literatur yang ilmiah, demokratis dan tidak asal – asalan seperti itu. Taukah anda bahwa panglima-panglima perang pasukan paderi yang menyerang mandailing adalah orang-orang kita sendiri? ada yang bermarga Sinambela, Siregar, dan Nasution. Dan hal ini di perkuat dengan bukti bahwa sampai saat ini mayoritas penduduk di dua kabupaten di Sumatera- Barat yaitu kab. Pasaman-timur dan kab. Pasaman-barat adalah orang mandailing dan angkola. Akan tetapi sampai saat ini belum ada bukti yang kuat kalau batak mandailing memeluk islam karena diserang. Karena, menurut sejarah juga, orang-orang batak jugalah yang membawa pasukan paderi untuk menyerang mandailing hingga toba dengan tujuan membalas dendam karena mereka terusir dari kerajaan batak, dalam hal ini marga sinambela. Tapi, rencana mereka gagal karena mereka keburu kalah. Dan perlu juga anda ketahui bahwa ada sejarawan yang mengatakan bahwa salah satu penyebab orang batak mandailing memeluk agama islam adalah karena kekaguman mereka atas kegigihan pasukan paderi yang notabenenya beragama islam dalam melawan penjajahan belanda. Ya, tapi begitulah karakter kita yang asli, selalu merasa kalau sub – suku nya lebih benar dari yang lain, dan karakter kita yang lain adalah keras kepala sekaligus sok tau serta selalu merasa lebih hebat dari yang lain…. Horas tondi ma dingin, pir tondi ma togu!!!!

TERIMA BANYAK DARI SAYA, BAGI SAUDARA SAYA YANG PUNYA BLOG INI, SEKALIGUS BAGI SEMUA SAUDARA SAYA PENGUNJUNG BLOG INI !!!!!!! Berinteraksi satu sama lain adalah salah satu proses menuju kebenaran serta dapat menghilangkan prasangka tak berdasar, dan yang paling penting adalah untuk memperkokoh persatuan dan persaudaraan kita. Horas ma di hamu, Horas buse ma di hami……

Horas.,

Saya ingin turut serta dalam menjelaskan tentang “OKNUM yang mengaku Mandailing padahal sebenarnya TIDAK”, pada beberapa kesempatan observasi dan wawancara yang saya lakukan baik di seputaran kota Medan,Panyabungan,Kotanopan dan Jakarta serta dengan rentang usia yang beragam, yakni dari usia 25 tahun hingga 70 tahun (dari rentang ini diharapkan muncul variasi jawaban) dan hasilnya dari sekitar 30 informan didapati 27 informan mengakui bahwa Mandailing adalah Batak dan 3 sisanya mengatakan bahwa Mandailing bukan Batak dikarenakan suatu hal yang bersifat pribadi sehingga hal ini tidak menjadikannya sebagai suatu pengakuan yang valid, dalam tulisan saya (www.avena-matondang@blogspot.com) yang akan segera saya posting akan terlihat beberapa komentar mengenai Mandailing = Batak berdasarkan data observasi yang telah dilakukan, berikut ini saya lampirkan e-mail dari seorang teman (kebetulan bermarga Lubis) :
“Menurut saya hanya sedikit orang yang
mau mengakui bahwa suku Mandailing merupakan sub-genre dari Suku batak
seperti yang anda tuliskan. Saya sudah banyak membuka situs-situs
mengenai budaya Mandailing, salah satunya adalah mandailing.org dan
saya sempat terkejut membuka situs tersebut karena disana banyak saya
temukan foto2 lama tentang desa Pakantan yang persis sama seperti yang
ada di album foto keluarga saya di Indonesia, sampai di situs tersebut
juga di muat foto kakek buyut saya Raja Gumanti (kakek saya adalah
anak dari Raja Gumanti dari desa Pakantan). Setelah saya baca banyak
artikel tentang budaya Mandailing disana justru saya lebih terkejut
karena cerita yang dipaparkan disana sama sekali sangatlah kacau dan
bertentangan sekali dengan cerita yang pernah diceritakan oleh ayah
kepada saya ketika saya masih kecil, bahwa asal-usul suku Mandailing
berasal dari suku Batak dan bukan dari suku-suku lainnya sama sekali.”
Saya mengharapkan semoga perbedaan pendapat tidak menjadikan kita bermusuhan akan tetapi ini merupakan peringatan keras kepada mereka yang mengaku Mandailing (baca: dari Malaysia) namun berupaya memecah persatuan diantara kita.

Mauliate

Ayahku orang Angkola muslim, Tapsel, sejak kecil kami dididik utk bangga menjadi orang Batak. Ayahku juga menekankan bahwa kami orang Angkola, BUKAN Mandailing. Asli ngawur banget orang yang menganggap Tapsel identik dengan Mandailing.

orang yang malu mengkui asal-usulnya adalah orang yang lebih hina dari apapun,,,, berusaha mencari dengan segala cara untuk menutupinya…… use u mind….don’t be like that……
AKU ORANG BATAKKKKKKKKKK

Waktu pertama kali saya baca komentar si Abdul Razaq Lubis (Malaysia) di situsnya tersebut,saya cukup takjub akan pemaparan sejarah yang menurut saya tidak tahan terhadap tes keakuratan sosio-historicalnya. Salah satu contoh adalah mengenai nama MANDAILING,yang menurut beliau beasal dari bahasa Minangkabau,yaitu Mande(ibu),Hilang serta nama kerajaan kuno Mandala Holing.Keduanya tidak dapat membuktikan asal2 usul nama Mandailing.Beliau agak jauh mengambil teori tsb untuk bahan pembuktian bahwa Mandailing bukan bagian dari BATAK. Beliau mencoba menguatkan teorinya dengan mencatut buku NegaraKrtagama,bahwa nama Mandailing telah sejak lama dikenal,sedangkan nama Batak tidak disebutkan.Menurut saya dia lupa atau tidak tahu bahwa nama Toba juga disebutkan. Pemakaian nama Mandailing, hanya untuk geografisnya saja bukan ditujukan untuk sekelompok suku bangsa atau manusianya.Saya pikir nama Mandailing sendiri adalah tipikal nama Batak atau istilah Batak.Man_da_iling…,mungkin merupakan bentuk kata kerja dalam bahasa Batak yang sudah sejak lama tidak diketahui lagi artinya,alias tidak terpakai lagi dalam percakapan bahasa Batak dilingkungan masyarakat yang bermukim dekat perbatasan Minangkabau tsb. Saya juga baca tulisan si Lubis dari Malaysia ini,yang mengatakan bahwa orang2 marga Lubis sekarang ini adalah turunan dari seorang dari Bugis yang merantau kepedalaman Sumatera Utara bagian selatan.Dan masih menurut teori beliau,kalaupun ada marga Lubis di Toba,adalah perantauan dari Selatan(Mandailing) dan itupun baru beberapa sundut(generasi).Perlu saya tegaskan bahwa ada beberapa marga di Toba yang bona ni arinya adalah boru Lubis,artinya itu telah terjadi ratusan tahun yang lampau(kira2- 500 thn).Lagipula menurut saya ompung2 kita itu nggak perlu jauh2 ke Mandailing untuk mangalap angka boru ni marga Lubis,kalo di Toba udah ada stok awalnya. Kalo sekarang ini marga Lubis jarang ditemui di Toba,semata-mata adalah karena migrasi bertahap kearah selatan. Sebetulnya kalo kita perhatikan setiap tempat bermukim semua marga,pasti kita akan mendapatkan petunjuk mengenai pola migrasi yang dilakukan para nenek moyang kita dahulu.Kita ambil contoh, kelompok marga Hasibuan,yang berasal dari Sigaol,pinggiran danau Toba,oleh karena satu sebab,mereka merantau kearah selatan.Satu bermukim di lembah Silindung dan yang lainnya melanjutkan perantauan ke Angkola dan Mandailing.Yang dilembah Silindung,berkembang menjadi beberapa marga independen,yaitu Hutabarat,Panggabean&Simorangkir,Hutagalung,Lumban Tobing,Hutapea.Lalu karena alasan2 tertentu juga beberapa keturunan dari marga2 tsb bergabung dengan saudaranya(seHasibuan) yang telah lebih dahulu menetap di selatan.Memang tidak semua yang merantau meninggalkan Sigaol,sehingga marga Hasibuan tetap ada sebagai marga asli dari Toba(utara). Saya juga merasa bangga akan pernyataan2 dari rekan2 yang berasal dari selatan,walau apapun situasi dan kondisinya tetap mengaku BATAK dan sadar akan sejarahnya. Bagi saya persamaan diantara kita jangan membuat kita lupa akan perbedaan kita,yang adalah identitas diri yang mebuat kita menjadi unik.Namun perbedaan janganlah membuat kita meninggalkan kesadaran bahwa kita berasal dari satu(serumpun)jua adanya.HORAS !!!

saya marga batubara dari mandailing, asal usul batubara dari toba prapat. neneknya nenek saya sudah lahir dimandailing, berarti orang mandailing itu erat kaitannya dengan toba berhubung jaman nenek moyang ada tradisi ladang berpindah-pindah sampai kedaerah mandailing ini. akan tetapi dari sumatera barat alias minang kabau juga ada yang membuka lahan-lahan berpindah kedaerah mandailing ini termasuk orang dari daerah agam sumbar, dan orng agam juga kerap mencari/mendulang emas berpindah-pindah di daerah mandailing ini. jadi pendek cerita, secara geografi bahwa mandailng ini ada keturunan dari toba/angkola, dan adacampuran dari agam dan sekitarnya, karena secara biografi mandailng ada ditengah-tengah. dan dibarat mandailing yaitu ada desa natal, ddidesa natal itu penduduknya berbahasa pesisir seperti padag dan sibolga sebahagian. jadi secara geografis, bahwa pesisir natal ini berbeda budaya dan bahasa karena jauh kedaratan pedalaman dan mereka konsentrasi mencari nafkah keluarga untuk melaut saja. dan orang batak pun terlalu jauh untuk membuka lahan ke daerah natal, secara logika didarah natal itu bukan untuk berladang tapi khusus untuk nelayan, makanya di daerah natal mandailng itu tidak ada pembauran tapi mereka termasuk kabupaten mandailing natal.setelah adanya pembauran ini antara orang batak dari toba maka kebudayaan didominasi oleh batak karena penduduk asli yang pertama dimandailing itu adalah perambah hutan dari batak setelah penduduk berkembang ada yang datang dari agam tetapi tidak banyak hanya beberapa keluarga saja. jumlah penduduk yang ada ditanah mandailing itu di dominasi orang dari toba/angkola. dan lumlah penduduk berkembang maka, penduduk setempat yang ada kaitan percampuran membuat marga yang baru yaitu marga lubis dan nasition. dan marga ini asli keluaran mandailing. dan tidak diketahui sampai sekarang campuran marga dari toba/angkola yang berhubungan dengan marga lubis dan nasution ini. dan banyak lagi yang harus saya paparkan dan lebih detil tapi tangan saya agak pegal untuk mengetiknya.

cuma sedikit koreksi saja mengenai tulisan tentang tanggapan dari lae Zulhelmi Batubara.

“… jumlah penduduk yang ada ditanah mandailing itu di dominasi orang dari toba/angkola. dan lumlah penduduk berkembang maka, penduduk setempat yang ada kaitan percampuran membuat marga yang baru yaitu marga lubis dan nasition. dan marga ini asli keluaran mandailing. dan tidak diketahui sampai sekarang campuran marga dari toba/angkola yang berhubungan dengan marga lubis dan nasution ini.”

* kurasa lae salah kalau bilang marga Lubis adalah hasil percampuran adat yang melahirkan marga baru, karena marga lubis merupakan marga tua yang asalnya asli dari daerah Toba yang kemudian generasinya lah yang merantau ke selatan sampai kemudian turun temurun di Tanah Mandailing. Marga Lubis adalah keturunan dari Raja Borbor menurut tarombo Si Raja Batak.

walau pun nenek perempuan saya padang tapi kakek saya orang Batak… yang asal muasal nye dari Toba coy
Batak The Great hahahahahhahaha

ini neh awal mulanya perpecahan
yang tidak mengaku batak unjuk tangan ayooo……

saya asli sipirok punya istri orang mandailing tinggal di sidimpuan ayo tebak saya orang mana ????

Awa bahaya laten New DEVIDE ET IMPERA !

AWAS bahaya laten New DEVIDE ET IMPERA !

Mandailing bukan Batak?! itu adalah itu anggapan yang salah. Selama masih pakai akar budaya Dalihan/Dalian Na Tolu, Ulos, bahkan aksara tulisan dan bahasa pun hampir sama.. jelaslah sudah suku yang ada di Tanah Mandailing itu suku Batak (Batak Mandailing).

Horas bangso Batak!

setiap org pnya cara utk bertahan, dan memandang masa depanya sesuai dgnn ciri hidup yang di i dmaninya, soal mandailing bukan batak adalah alasan politis yang maknanya dalam dalam perpekstip kebangsaan yang lebih luas, dan mereka org2 yang naif yang tdk merghargai tanda hidp yang sudah berabad hdup hnya demi sebuah hasrat, dan sy rasa semua org mmpyai hak utk itu dan satu saran saya jglah itu dijadikan utk mepresure etnis tertentu dan menganggap hal itu sebagai formal yang diakui dlm masyarakt……….titik..horas”arga do bona ni pinasa on harga sian bona ni p*****a”

horas…

AHU SISINGAMANGARAJA…kata raja itu.mengerti kah hita bangso batak artini i???

ada kehormatan,ada rasa bangga,ada rasa menghormati kekerabatan..itulah yang ditunjukkan RAJA SISINGAMANGARAJA XII hingga meninggalnya beliau,agar semua sub bangsa batak mengerti bangsa batak adalah bangsa yang harus MERDEKA DAN BERSATU.

aAHU BANGSO BATAK.

horas…

mandailing juga manusia, jadi punya kepentingan, sama seperti orang kite karo, sekarang jadi jelas kan siapa yang musang berbulu domba, kalau boleh secepatnya dideklarasikan ke tidak batakannya, jangan kalau ketemu di perantauan masih ngaku-ngaku orang batak lagi, ayo cepat-cepat, kalau boleh buat iklan di metro tv, kenapa gak dari zaman dulu di gugat aja buku-buku sejarah dan buku yang berhubungan, sekarang baru berkoar-koar, dasar bunglon

@ parsahutaon

Orang Mandailing bukan hanya 2 atau 3 orang, lae..

bila ada beberapa orang atau beberapa bagian dalam keseluruhan orang Mandailing itu yang menolak untuk menjadi bagian dari bangsa Batak, bukan berarti mereka itu pantas mewakili suara keseluruhan orang Mandailing sehingga bisa dengan mudah ditarik kesimpulan kalau orang Mandailing bukan Batak.

Horas Batak Mandailing..

Horas bangso Batak!

Ayo siapa yang mau lihat buku-buku sejarah yang ada di Belanda. Ada tidak naskah2 atau buku-buku lama tentang Mandailing di Indonesia sendiri ? Menggali dari naskah2 dan buku2 lama lebih baik saya rasa….sayang saya belum pernah dengar dimana bisa nemuinnya di Indonesia.

Maunya ada ya generasi dibawah kita nanti yang menggali sejarah suku dan agama di Tapanuli. Berkata dan berpendapat berdasarkan data atau sumber yang syah dan isa disyahkan mengenai sejarah suku atau agama di dalamnya itulah lebih baik.

Horas…..semua orang bebas berargumen asal bisa mempertangungjawabkan argumenya…..mau mengakui sebagai orang batak atau ga mengakui ga masalah…..yang penting kami dari Batak Toba masih mengakui saudara saudara kami yg dari selatan adalah saudara Se Bangso Batak….horas, mejuah-juan…,njuah-njuah

I am so pleased to have found your blog site, you have presented an amazing list of topics, of Batak things. Thank you for being a great journalist and for sharing your knowledge with us. I will be back, would love to read more info on your blogs.

Horas, and well done.

Boru batak in London and proud to be Batak.

Agama versus budaya, bermarga (Red atau istilah Dalle), masa orang bermarga tidak orang Bataks, atau karena faktor agama, atau tidak perlu silsilah, disebab akibat, bahasa yang tegas dan jelas versus pelan dan berpuisi, sedangkan daerah bernama tapanuli, perhatian orang bermarga dengan yang orang melalui,membuat marga otomatis sesuai kebutuhan semata, dan bahan diskusi lanjutan Orang Nias(Halak Nias kemana??????), atau karena rumit tarombo dan silsilah???? seperti orang padang (red).

Istilah pilihan; Bangga menjadi orang Bataks atau takut mempergunakan marga sebagai orang batak, orang Batak,Tapanuli,Mandailing?????? dimana kebersamaan dan kekompakan diantara agama dan budaya diantara yang bersaudara ( Red Istilah hilang dari Peta atau Tarombo), karena sudah disebut orang sileban, HKBP dan GKPA (minoritas dan mayoritas penganut di daerah Mandailing Red), kaitan penduduk sumatera Utara, mayoritas Bataks, tetapi sudah terpecah,terbelah dan bertolak belakang persepsi, dalam kepemimpinan era kini???????

kenapa orang mandailing tidak mau disebut dengan orang batak ? karena orang mandailing malu dibilang orang batak, berakar karena orang batak terkenal akan keras , baik itu dari suara, tingkah laku, dll. dan disisi yang lain karena mandailing mayoritas muslim, berbeda dengan kebiasaan orang batak umumnya, yang suka berjudi, minum2an beralkohol seperti halnya tuak, karena dalam agama islam kan dilarang. itu aja menurut saya, marga dimandailing sekarang ini sudah bercampur baur, nasution, lubis, harapan, pulungan, siregar, dll.

Topik ini memang sangat menarik dan ternyata mengundang pro kontra atas statement ” Orang Mandailing Bukan Batak “. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut karena dari hasil penelitian dan kajian ilmiah pun ( antropologi dan linguistik ) terbukti banyak Orang Mandailing Bukan Batak karena memang daerah ini menjadi area pembauran antara etnik keturunan Batak, Minangkabau dan di pesisir dengan Nelayan Bugis yang merantau keseluruh pantai Nusantara. Mereka yang murni keturunan Batak atau campuran dengan garis ayah Batak akan mengaku orang Batak, yang bukan Batak pasti ngak mau disebut Batak. Fakta menunjukkan banyak Etnik Minang yang menikah dengan wanita Batak di Mandailing membuat marga sendiri yang bukan merupakan tradisi di Sumbar. Contohnya Tanjung, Sikumbang, Chaniago dan lain-lain. Mereka membuat marga untuk menyesuaikan dengan falsafah Batak Dalihan Natolu sehingga dapat diterima dalam kekerabatan Batak. Sama seperti kebiasaan orang Batak memberi marga tulangnya pada istrinya atau marga amang borunya untuk suaminya agar dapat masuk dalam kekerabatan adat Batak. Masyarakat pembauran di mandailing ini ternyata memiliki jumlah yang agak seimbang sehingga punya pendukung yang sama-sama kuat untuk menyatakan pro dan kontra sebagai orang Batak. Disamping kondisi pembauran ini ada lagi hal lain yang menyebabkan sebagian orang Mandailing asli Batak tidak mau disebut Batak yaitu persepsi tentang perbedaan agama, karakter dan politis dengan sub etnik batak lainnya. Jadi wajar saja sebagian orang Mandailing tidak mau disebut Batak. Satu hal yang perlu kita ingat adalah Batak itu hanya ada satu yang berbeda hanyalah wilayahnya, agamanya, pola pikirnya, variasi bahasa dan adatnya karena faktor perubahan yang oleh teori Darwin disebut Evolusi. Toba, Angkola/ Sipirok,Mandailing, Simalungun, Karo, Pakpak / Dairi hanyalah nama wilayah bukan nama etnik tetapi menjadi melekat sebagai nama sub etnik Batak. Jadi biarkanlah anjing berlalu , kafilah berlalu. Mereka yang tidak mau disebut Batak mungkin memang bukan Batak tapi Minang, Bugis atau etnik lain. Yang Batak tidak mau disebut batak berarti sebutannya Dalle. Yang gitu aja kok repot.
Banggalah jadi orang batak bila anda ditakdirkan jadi orang Batak karena itu berkat dari Allah yang Maha Pencipta. Horas ma dihita sude.

Terus terang sya ga tau tentang lubis, nasution. Tapi walaupun sy dibesarkan di mandailing dan setau saya, saya hasibuan mandailing tapi saya tetap yakin bahwa hasibuan yg dimandailing adalah satu silsilah dengan hasibuan yang di toba… sehingga sy ga pernah perduli hasibuan itu mandailing atau toba yang penting setiap hasibuan adalahlah satu oppu… satu keturunan yaitu raja hasibuan

Dari pengalaman Perantau Mandailing ( si PM ) dengan penduduk Jakarta (si PJ ) .
Pada saat si PM diam si PJ masih menerka-nerka, orang mana kawan ini ?. tapi setelah dia bicara , Ooo… ternyata “Batak ” rupanya.

Si PJ biasanya sok akrap bertanya, ” Asalnya dari mana lae ? ”

Si PM akan menjawab, ” Mandailing bang ! ”

Dengan si PM menyebut “Mandailing” maka si PJ pun sangat paham bahwa si PM tersebut adalah Batak muslim.

Jadi si PM tanpa menyebutkan dirinya orang batak , Si PJ pun sudah paham siapa si PM , Malah percakapan akan menjadi lebih panjang kalau si PM mengayakan dirinya Orang Batak sebap si PJ pun masih akan bertanya. Batak Mana Lae ?

Untuk praktisnya saya kalau di tanya orang ,saya orang mana ,saya akan bilang saya orang mandailing, rasanyanya akan mempermudah percakapan, dengan menyatakan diri saya orang mandailing bukan berarti batak saya sudah hilang , nyatanya si PJ sudah sangat paham tentang batak, mana yang beringas mana yang kalem pun dia tau.

Untuk kenyamanan saya apa saya salah mengaku orang Mandailing saja karena saya memang orang Mandailing atau saya harus mengatakan saya ini Orang Batak Loooo….. Biar orang seram. Gimana…..?

Enak yang kalem-kalem aja kali ya….!

Boti mada.

Horas….

Kalo aku ngakunya Batak dari Tapanuli… hanya buat membedakan lokasi geografisnya..seram apa tidak kan itu terlihat dari kelakuan kita.
(padahal aku bangga loh kalo dibilang mukanya batak kali)

Aku punya garis silsilah dari nenek kami Siraja Hutagalung s/d aku keturunan no ke 17.
Yang menarik adalah bagaimana kita bisa mencoba memahami, mengerti perasaan saudara (sebangsa) kita dari Tapsel yang tidak setuju kalo dibilang Batak. Aku selalu PROUD TO BE BATAK. ternyata buat yang lain ada juga yang RISIH dibilang batak. ini sesuatu yang menarik sekali…
Karena kalo ditanya : Kamu Batak? Jawabnya hanya Ya.. atau tidak..
ngaa laku; Iya tapi….. Bukan tapi..

Horas di hita sude.

Marga-marga di Madailing, seperti Hasibuan, paling dominan di Siagaol Toba dan Silindung Toba. Marga Siregar di Angkola dominasinya di Muara dan hampir tersebar di seluruh Toba. Marga Batubara dan Tanjung banyak juga di sekitar Toba. Marga Pohan demikian juga jelas asal dan banyak di sekitar Toba, keturunan siBagot ni Pohan dari negeri Pohan di Toba. Nah, Lubis, juga demikian. Marga Lubis adalah keturunan si Raja Batak dari Saribu Raja. Lubis adalah bersaudara seketurunan dengan Pasaribu, Harahap, Pulungan, Tanjung, Matondang, Tarihoran, Batubara dan banyak lagi yang tergabung dalam satu keturunan yaitu Borbor Marsada. Dan kami juga adalah menantu dari si Raja Pasaribu, atau Pomparan SiRaja Borbor Marsada ini. Marga Lubis banyak di Toba. Silahkan mengunjungi daerah Sipultak- Butar di Siborong-borong, juga di Parsoburan, Habinsaran Toba, juga di Haunatas Toba, juga di utara di Garoga Pangaribuan. Jadi Lubis itu bukan soal mandailing atau bukan. Si Raja Lubis itu ada dimana-mana. Sebagai keturunan si Raja Batak, jelas dia dari pusuk Buhit Toba dengan ibu boru Sihombing dari Sipultak Butar sebagaimana dijelaskan “rarsiborongborong” sebagaiberikut ini : DATU POMPANGBALASARIBU SAHAT TU SIPULTAK Sian na metmet dope anak sihahaanna i nunga sai diajarajari Sariburaja II (Datu Rimbangsoaloon) taringot tu hadatuon dohot hapangaulimaon. Molo ro siseanna marguru manang molo laho ibana manandangkon hadatuonna sai dohot do anakna i dipaboanboan. Tung sude do parbinotoanna i ditungkishon tu anakna i sahat tu pompang balasaribu tulak balasaratus pola dohot goarna dibahen “Datu Pompang Balasaribu”.
Ala ni hadatuonna dohot hapangulimaonna dang sangkot ibana di huta. Dolidoli dope ibana nunga laho manandangkon na binotona tu Balige maringanan di Onanraja. Mahap ibana disi, nangkok muse tu Gumbot, sian i tuat tu Tarabunga. Songonsongon i ma ibana madangadang sian luat nasada tu luat na sada nari.

Dung manang sadia leleng ibana di Tarabunga tuat ma muse tu Meat, ditorushon muse tu Sitanggor nangkok dompak Paranginan torus tu Lintongnihuta. Dung sahat tu Sipultak maradian ma ibana disi ala toho tano i tu rohana bahen ingananna. Dipungka ma disi hutana, dipajongjong jabuna, diula porlak dohot parturan, dipungka ma dohot pahanpahananna, digoari ma hutana i Pea Horsik Sipultak.
Dibuat ibana ma boru ni luat na disi bahen pardihutana i ma boru Hombing. Adong do dua halak anakna dohot sada boruna. Goar ni anakna i:
1. Isangmaima na margoar muse Datu Pulungantua, anakna ma Tumonggo Lubis naumpompar marga Lubis
2. Datu Rimbangsaudara namargoar muse Datu Marhandangdalu, anakna ma Sariburaja III naumpompar marga Pasaribu. (torsa no. 10 dohot 11)
Digoari Datu Pompangbalasaribu do boruna i Siboru Sanduduk i ma na muli tu anak ni Namboruna Siboru Pantisabungan na muli tu Babiat Naingol Sinaga di Pariksabungan.

DATU RIMBANGSAUDARA (DATU MARHANDANGDALU)
a. Hadakdanahonna
Dipaboa Datu Pompangbalasaribu do sangkapna tu ripena boru Hombing tarsingot tu anakna Isangmaima dohot Rimbangsaudara songon on:
1. Isangmaima ajaranna tu hadatuon na madangadang muse tumandangkon hadatuon tu luat na asing, alai
2. Rimbangsaudara ajaranna ma martungkuang dohot marpadot asa adong tinggal dapoton di huta.
Dialo boru Hombing do i, di dok ingkon rap ajaranna nasida na dua tu hadatuon, partungkangon dohot hapadoton. Alai ndang ditangihon Datu Pompangbalasaribu, holan Isangmaima do diajari taringot tu hadatuon i.

Dihusip inana do Rimbangsaudara asa dipajonokjonok di pudi ni amangna uju diajarhon hadatuon i tu hahana manang tu halak na asing pe na ro marguru manang marubat tu ibana.
Na torus do roha ni Rimbangsaudara sude do dapot rohana hadatuon ni amana i, gari taoar najinalo ni amana sian ompungna Sariburaja II dapot do dibuat satonga be dipamasuk tu guriguri najinalona sian amangboruna Babiat Naingol i ma taoar: Ajimalim, Sitampar api dohot Sibola nanggar. Disimpan ma i tu inganan na buni na so sihasohasoan.
Dua hali masiujian gogo Rimbangsaudara dohot Isangmaima, masitalu gogo masionjoran andalu ma nasida parjolo sahali, talu do Isangmaima. Paduahalihon marsiadu maringkat masilelean. Ndang dapot Isangmaima dilele Rimbangsaudara, alai anggo Rimbangsaudara pintor dapot do dilele Isangmaima jala ditangkup.

Marsak do Datu Pompang Balasaribu paidaida parbadabadaon ni anakna na dua i. Dijou ma nasida nadua, dipaingot ma asa unang be marbadabada. Disuru ma nasida mangalului boru asa boi nasida hatop pajaeonna. Mambuat boru ma Isangmaima, dang haru torang binoto boru aha dibuat; adong na mandok boru Hasibuan alai laos adong do mandok boru Sitompul. Ba tumangkas ma marga Lubis umboto manang mangalului.
Dipajae natorasna ma anak i, dipungka ma parhutaanna di Lobu Silosung humolang otik sian Pea Rihit.

Rimbangsaudara pe laho ma mangalului boru tu Lintongnihuta dipasaut ma boru ni tulangna marga Sihombing Lumbantoruan. Ibana pe manjae ma di sosor Lobu Sipinggan nuaeng. Balga jala uli do dibahen jabuna ai tungkang do ibana, lambas jala renta do parporlahan dohot parladanganna ai na padot do ibana. Torop do halak ro mangido pangurupion nang sian luat na dumao ai nunga datu bolon ibana margoar “Datu Rimbang Saudara”. Dan seterusnya……

Nah, inilah sebagian kecil saja kutipan yang sumbernya adalah dari nenek moyang kita sendiri yang diwariskan dan diyakini bersama oleh semua orang Batak karena yang bermarga Lubis beribukan atau bere dari marga-marga Batak lainnya.

Sudahlah biarkan sajalah si A. Rajak Lubis itu, dia lilu dan tidak mengenal identitas. Mungkin Lubisnya itu bukan Lubis Batak, hanya kebetulan mirip saja.

Horas halak Batak
Horas tondi madingin, pir tondi matogu.

@ Laeku Duaman Lumbantoruan

Horas ipar… aku lubis dari mandailing.. lahir sampai lulus sekolah pun di Mandailing setelah itu merantau…

sebelumnya terima kasih buat penjelasan dari ipar mengenai tarombo kami marga Lubis..

aku setuju dengan pendapat ipar mengenai kebatakan itu.. aku gak pernah tutup2i identitas kalau marga Lubis kami itu marga batak.. baik selama aku masih di Mandailing maupun setelah merantau… selalu bangga menjadi orang batak karena aku tahu sejarah.. siapa itu orang batak, darimana itu marga Lubis… memang sulit menemukan tarombo lengkap kemargaan di mandailing.. dan ada beberapa marga yang lahir memang di mandailing… diluar marga tua seperti Lubis, Batubara, Tanjung, Matondang, Siregar, Harahap, dll… walaupun menurut saya mereka juga batak..

Tapi orang seperti A. Rojak itu yang menyidahkan… dia tidak tahu nenek moyangnya.. mungkin krn sudah lahir dan dimelayukan di Malaysia…

Horas halak batak
Horas tondi madingin sayur matua bulung

mandailing g mau ngaku batak knapa sih,sedangkan karo,pakpak ,simalungun aj mau ngaku batak,apa anggapan kalian suku batak tuk jelek ya padahal suku lain aja salut kok liat suku batak yg ada marga nya ,kalo ketemu dperantauan pasti langsung akrab.bahasa mandailing hampir sama dngan bahasa toba,trus simalungun juga,sedangkan karo danpak-pak yg bahasanya beda aja mau kok dibilang batak.jangan salah ya suku batak diperantauan termasuk suku yg berhasil jd jgan malu ya dibilang orang batak.trus orang jawa ,kalimantan ,sulawesi.dll g kenal namanya mandailing yg mereka tau batak.jangan pecahkan suku kita gara2 perbedaan yg g perlu diperdebatkan……………….horas

Kebenaran harus di ungkap dan di teruskan kepada anak cucu saya sangat setuju dengan Abdur Razaq Lubis.

Saudara saudara yang berasal dari marga-marga batak sudah menjadi satu dengan Mandailing begitu juga dengan suku-suku atau bangsa-bangsa lainnya.

Bagi mereka orang-orang yang sudah besar dan hidup di Mandailing mereka dulu datang ke Mandailingdi sambut adat kalau mereka tidak mengakuinya sah-sah saja asal mereka- mereka tersebut tau di adat dan mengembalikan adat tersebut.

Kalau belum paham silakan pelajari bagai mana dulu nenek moyang orang Mandailing mempersatukan para pendatang menjadi orang Mandailing . Ingat , “Adat Manopot Kahanggi” yang dilakukan nenek moyang ki8ta dahulu.

Jangan kita jadi manusia yang tidak punya rasa terima kasih.

Santabi sapulu tu ita sasudena.

Mandailing is Mandailing

Horas Mandailing

Jadi apakah beza antara Batak dengan Mandailing itu bersandar kepada agama yang dianuti? Sedangkan adat tradisi antara dua ethnik ini tidak jauh bezanya, seperti Rumah Godang, Gondang Sembilan, pakaian pengantin dsb..

Mohon dijelaskan,

Saya ikutan ya !, Dua artikel di blog ini mengenai Mandailing memang menarik, menjadi pemikiran, menjadi argumentatif, menjadi polemik, tapi harus ada solusinya -ya nggak? Kalau ada yang mau merangkumkan solusinya, saya mau titip usul seperti ini;

1) Bagi saudara-saudara dari Mandailing yang sebagian mengaku Batak Mandailing dan sebagian lagi tidak mengakui bagian dari Batak dibuat aja kodifikasi pada marganya.
2) Bagi yang mengakui Batak tentu akan tetap memakai marganya, tetapi bagi yang tidak mengakui dan mau memakai marganya juga dipakai aja kode-nya, kalau mau menghilangkan marganya yah lebih bagus, jadi jelas ada bedanya.
3) Kalau 2 kubu yang mengakui dan yang tidak mengakui dipakai aja kode di depan atau dibelakang marganya, seperti ini: Yang mengakui ditambah initial ‘B’ (Batak), yang tidak mengakui ditambah initial ‘BB’ atau ‘B2′ (Bukan Batak)

Kalau ada solusi lain ya bagus juga. Holan usul do on da bo!

Karena Mandailing itu subur mahrifah loh jenawi dari zaman dahulu banyak orang darimana saja datang ke sana dan mereka manopot kahanggi , hidup mereka , makmur , mereka gunakanla marga kahanggi mereka sebagai marganya ,

Zaman belanda masuk mulai ada balasting yang tinggi , ada yang pro ke Kompeni Belanda tersebut , bebas dia dari pajak , karena sejarah aslinya dia pendatang khusunya yang berhubungan dengan toba , digunkanlah kembali marga aslinya kalau tidak dia mengakui dirinya orang batak dengan masih memakai marga kahangginya karena untuk kemudahan pendataan belanda membuat banua tapanuli sekitar menjadi satu suku yang mereka sebut orang batak yang kita tau Batak itu hanya terdiri dari Toba , silindung , humbang , samosir, ini batak asli , inilah yang mereka lakukan untuk menjilat ke belanda tsb . maka di Mandailing terjadilah perpecahan , mudah lah si balanda itu untuk manguasai.

Seharusnya setelah mereka melakukan adat manopot kahanggi konsekwen lah tapi itulah manusia….Berjuang atas nama kepentingan sendiri….

Mandailing asli sebagian tidak mampu bertahan , larilah mereka ke malaysia….karena orang hidup saja harus bayar pajak (balasting) 1 ria (Mata uang mandailing) = F 0,60 cent (uang Belanda ) pada saat itu , anak laki-laki dewasa 20 ria , perempuan dewasa 25 ria orang jompo 15 ria Anak gadis 30 ria , potong kerbau 4 ria , pajak kerbau hidup 7 ria .

Sedang di toba sekitarnya tidak dikenakan balasting yang sebesar di mandailing.

Barangkali kekacauan terjadi akibat dari si panjajah yang sadiiiissssssssssssss…..

Santabi tu ita sudena

Horas Mandailing

Saya sebagai orang Batak Mandailing bingung lihat ada saudara se-Mandailing yang tak mau mengaku Batak, entah karena mereka memang tidak mengerti.. eh, atau hanya ikut-ikutan?

Saya perjelas disini tidak semua bahkan hanya sebagian yang lebih kecil orang Mandailing yang keturunannya didapat dari adat “Manopot Kahanggi”. Manopot kahanggi dilakukan untuk melestarikan adat Dalihan Na Tolu dalam keluarga (Batak Mandailing).. setelah diberikan marga maka orang tersebut sudah menjadi bagian dalam keluarga (Batak Mandailing)

Manopot Kahanggi sendiri juga sebenarnya bukan adat yang hanya berlaku di Mandailing tapi semua adat Batak menerapkan hal tersebut, tentunya dengan istilah yang berbeda2…

Adat pemberian marga dilakukan apabila terjadi beberapa hal, misalnya dalam perkawinan apabila ada orang dari suku lain yang menikahi/dinikahi, apabila tokoh yang bersangkutan dipandang telah berjasa kepada Mandailing dan apabila tokoh yang bersangkutan telah lama hidup dalam lingkungan masyarakat (Batak) dan melakukan tugas-tugas kemasyarakatan Dalihan Na Tolu.

Perpecahan tidak hanya dilakukan zaman dahulu oleh penjajah namun juga sekarang oleh mereka yang mencoba memecah antara Mandailing dengan Batak.

Santabi tu hita sasudena

Horas Horas Horas

sejarah panjang suatu negeri sudah pasti ada pengaruh dari tatanan budaya luar,mis: INDONESIA,rakyatnya terbesar populainya suku jawa,tapi bahasanya melayu.raja di mandailing turunan siapa? rakyat /penduduk mandailing turunan siapa?,mandailing itu sendiri bukan tercipta dari prosesi yg berasal dari raja / penduduk mandailing ,tp nama peninggalan dari suatu etnis yg pernah berkuasa di wilayah itu,Jangan di perdebatkan hak eksklusif tempat menjadi sumber awal,karna warisan itu adalah kepemilikan yg datang tunrun-temurun,klo ditanya asal usulnya sudah jelas yg punya pertama gak ada lagi,etnis mundo /haru itu tdk menguasai at mewariskannya pada turunannya,karna telah direbut oleh pendatang migrasi dari toba,minang,melayu,dll. era setelah etnis mundo(keling) Raja di mandailing jae marga nasution, di julu lubis,proses II, nasution di mandailing jae membentuk nama wilayah baru: mandailing godang. Angkola itu juga peninggalan etnis keling (Raja cola dari india),tp tdk mewariskan kpd turunannya,akan tetapi di kuasai oleh migrasi dr toba mandailing at lainnya, makanya terbentik tatanan ankola yg terpisah dari mandailing,klo dikaitkan dg toba,maka angkola dan mandailing sudah pasti terpisah secara budaya/adat,karna unsur politik dan budaya dp raja at masyarakatnya yg mengkultuskan prinsip apakah itu agama, batas wilayah kekuasaan raja, kepentingan ekonomi at hukum adat
TAROMBO MARGA juga sering di simpang siurkan,coba teliti, terombo yg punya legitimasi secara obyektif dan punya landasan sejarah/terkait dengan pengakuan seluruh komponen sub dp marga itu,maka sudah pasti mendekati kebenaran,jgn sebut suku at marga karna pada masa lampau suku /marga itu belum ada,nama sumatera pun belum ada,masih berupa sekelompok orang2( orang2 itulah yg bakal menjadi marga),adat juga demikian,dalam proses kemasyarakatan dari thn kethn,dr abad ke abad maka terbentuklah adat(kebiasaan) makanya adat itu dikatakan warisan nenek moyang,jd bukan menentukan suku dahulu,tp suku sekarang,ada suku toba(batak),ada suku angkola ada suku mandailing,apakah ke 3 suku itu punya hubungan silsilah ? bila ada jgn di klaim ke arah manapun sukunya karna suku dan silsilah itu sama tapi juga beda(mis: sama silsilah tp beda suku)

Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 454,485 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: