Keramik Abad 12 Ditemukan di Simangambat, Mandailing
IBARAT permainan menyusun gambar, tak seorang pun di dunia ini yang dapat menyusun gambar utuh mengenai sejarah Bangso Batak–lantaran terlalu banyak keping sejarah yang hilang tanpa jejak.
Mari kita berharap, mudah-mudahan penggalian reruntuhan candi Hindu-Budha di Desa Simangambat, Mandailing, Sumatera Utara; yang sudah berlangsung 10 hari; akan menemukan petunjuk-petunjuk baru yang mengandung informasi sejarah.
Menurut laporan surat kabar Kompas (15/4), penggalian di situs arkeologis tersebut dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan. Penggalian sudah berlangsung 10 hari, namun mereka baru menemukan fakta-fakta awal.
Para peneliti meyakini, situs bernama Jiret Simangambat yang terletak di Desa Simangambat, Mandailing, Sumatera Utara itu adalah pusat kebudayaan tertua di masa lalu. Jiret artinya kuburan dalam bahasa Mandailing.
“Dari penggalian di lima lokasi, kami menemukan potongan bangunan candi. Meski demikian, masih banyak pertanyaan mengenai situs ini,”jelas Kepala Balai Arkeologi Medan, Lukas P Koestoro, Senin (14/4).
Situs arkelologi yang diduga merupakan reruntuhan candi Hindu-Budha tersebut, berupa gundukan batuan terletak di tanah kosong; di tengah perkampungan warga. Pada 1920, peneliti Belanda, Bosch dan Schintger sudah menyebutkan adanya situs di tempat itu.
Menurut Lukas, setelah melakukan penggalian selama 10 hari, tim peneliti menemukan pecahan keramik Cina dari Dinasti Sung abad 12. Penemuan keramik ini membantu peneliti merunut kronologi aktivitas di candi. Temuan ini juga menunjukkan adanya kontak budaya dengan bangsa lain. Namun demikian peneliti belum bisa memastikan lalar belakang dan tata pemerintahan ketika itu.
“Kami belum menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar ; siapa yang membangun dan untuk siapa bangunan itu didirikan ? Bagaimana struktur pemerintahan saat itu dan siapa yang berkuasa,”ujar Lukas. Sampai saat ini tim arkeologi masih berada di lokasi untuk menyelesaikan penelitian.
Ketua Departemen Antropologi Universitas Sumatera Utara, Medan, Zulkifili Lubis mengatakan, beberapa tempat di Mandailing Natal masih menyimpan benda-benda bersejarah. Sayang sekali, benda bersejarah itu sebagian digunakan warga untuk keperluan pembangunan rumah. (Raja Huta/www.tobadreams.wordpress.com)
DIarsipkan di bawah: Hot - info | yang berkaitan: arkeologi, batak, budha, candi simangambat, hindu, mandailing, mandailing natal, medan, natal, purbakala, sejarah, situs arkeologi, sumatera utara, usu
Menurut L.Andaya, Kerajaan Sriwijaya sudah sejak awal abad ke-5 sudah melakukan perdagangan Kamper(Camphor) dan Kemenyan(Benzoin) dengan bangsa lain seperti Cina, India, dan Midlle east. Dan kebanyakan keduanya banyak ditemukan di daerah Tapanuli, lalu rute pengiriman komoditi ini ke Sriwijaya melalui daerah Mandailing yaitu dari Padang lawas melalui Sipirok, terus melewati perbukitan Batang toru dan Padang lawas waktu itu menjadi seperti transit sebelum dikirim ke Barus, juga ke daerah Sriwijaya melalu rute lain yaitu melalui perbukitan Padang sidempuan terus ke Batang angkola, lewat perbukitan padang lawas terus ke selatan lewat Penyabungan dan Huta Nopan, Muara Sipongi ke Rao, dari Rao ke Muara takus melewati Batang mahat ke Kampar kanan, Batang Sumpur, Sungei Rokan, dan sampai ke Sriwijaya.
Dipercaya rute perdagangan yg melibatkan orang batak dalam perdagangan internasional ini berlangsung sejak abad ke 5 s/d ke 9, sampai kemudian Kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya pada thn 1025, untuk mengambil monopoli perdagangan di Selat malaka dan kedua komoditi tsb.
botima, mauliate.
Menurut L.Andaya, Kerajaan Sriwijaya sudah sejak awal abad ke-5 sudah melakukan perdagangan Kamper(Camphor) dan Kemenyan(Benzoin) dengan bangsa lain seperti Cina, India, dan Midlle east. Dan kebanyakan keduanya banyak ditemukan di daerah Tapanuli, lalu rute pengiriman komoditi ini ke Sriwijaya melalui daerah Mandailing yaitu dari Padang lawas melalui Sipirok, terus melewati perbukitan Batang toru dan Padang lawas waktu itu menjadi seperti transit sebelum dikirim ke Barus, juga ke daerah Sriwijaya melalu rute lain yaitu melalui perbukitan Padang sidempuan terus ke Batang angkola, lewat perbukitan padang lawas terus ke selatan lewat Penyabungan dan Huta Nopan, Muara Sipongi ke Rao, dari Rao ke Muara takus melewati Batang mahat ke Kampar kanan, Batang Sumpur, Sungei Rokan, dan sampai ke Sriwijaya.
Dipercaya rute perdagangan yg melibatkan orang batak dalam perdagangan internasional ini berlangsung sejak abad ke 5 s/d ke 9, sampai kemudian Kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya pada thn 1025, untuk mengambil monopoli perdagangan di Selat malaka dan kedua komoditi tsb.
Melihat sejarah Tapanuli, maka Barus dan Mandailing memang mempunyai background sejarah yg menarik. Dan peninggalan sejarah dari adanya hubungan dagang dengan bangsa lain(Cina, India, Eropa, Arab) tentunya ada tersebar di beberapa daerah di Tapanuli, seperti candi Portibi, Prasasti Lobutua, dan lain-lain. Awal Missionaris yg didengungkan oleh Raffless pertama kali pun dimulai dari Mandailing kemudian terus menyebar ke Tapanuli utara.
Botima, mauliate.
ada fotonya gak ya….saya sangat tertarik oleh budaya kita…Indonesia tercinta…karena budaya Indonesia jaman dahulu sudah menggunakan sistim modern dan sudah mempunyai jati dir dan nasionalis, tidak seperti zaman sekarang ini….
terimakasih….great article…