batak itu keren

Gereja di Sumut “Selingkuh” dengan Parpol

Posted on: 15 Maret, 2008

Saya perhatikan, tingkah laku para pemimpin gereja di Sumut tak ada lagi bedanya dengan tingkah laku para politisi yang mengincar kekuasaan pada posisi-posisi elitis dan strategis. Bahkan prilaku sebagian para pemimpin gereja di Sumut ini bisa lebih memprihatinkan daripada prilaku birokrat yang sering tidak berpihak pada rakyat, kepada umat.

Oleh : Limantina boru Sihaloho**

PADA hari libur nyepi yang baru saja lalu, saya terkesiap membaca berita dalam sebuah harian lokal yang memberitakan bahwa Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) di Pematang Siantar mengadakan ibadah dalam rangka penguatan bagi salah seorang calon gubernur Sumut. Dalam gambar, seorang pendeta berdiri di samping seorang pendeta lainnya yang sedang berbicara (berkotbah?) dari sebuah podium. Keduanya mengenakan jubah hitam kelam berpita putih di bagian leher.

Kalau benar telah berlangsung ibadah penguatan bagi salah seorang calon gubernur Sumut yang dilaksanakan oleh BKAG di Pematang Siantar, maka ada pertanyaan-pertanyaan yang perlu saya ajukan dan sebagai warga gereja saya berhak memperoleh pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin gereja yang mendukung ibadah penguatan bagi salah satu kandidat gubernur Sumut untuk pilkada dalam waktu dekat ini.

Pengalaman telah memperlihatkan pada kita bahwa para politisi dan birokrat biasanya memiliki tujuan-tujuan jangka pendek, sependek bahkan lebih pendek daripada lamanya mereka menduduki jabatan yang sedang mereka incar. Kampanye selalu diisi dengan slogan-slogan bombastis penuh impian kosong; bukan lagi rahasia bahwa uang dibagi-bagi kepada sejumlah calon pemilih potensial. Kalau nanti yang rela menebar uang dan pesona semacam ini telah terpilih menjadi gubernur, apakah ada jaminan bahwa yang bersangkutan akan memenuhi janji-janji masa kampanyenya? Adakah hitam di atas putih untuk perwujudan janji setelah kampanye berlalu jika yang bersangkutan memenangkan kompetisi pemilihan gubernur?

Mengapa kok gereja sebagai sebuah institusi religius tidak lagi begitu berbeda dengan institusi sekuler? Ada apa ini? Mendukung seorang calon gubernur dengan cara menyelenggarakan sebuah ibadah penguatan bagi yang bersangkutan adalah sebuah tindakan gegabah. Orang-orang yang berada di BKAG nampaknya tak memiliki kemampuan untuk menganalisa secara mendalam situasi kontemporer. Mereka seperti orang-orang yang tak mau tahu akan apa akibat tindakan-tindakan yang dilakukan BKAG bagi masa depan gereja.

Menurut saya BKAG terlalu mudah untuk mendukung seorang kandidat gubernur tanpa alasan yang jelas dan bertanggung jawab. BKAG dengan ibadah penguatan untuk seorang kandidat gubernur tersebut telah mengatasnamakan warga gereja anggota-anggota BKAG dan ini memiliki implikasi yang luas dan menjadi sebuah cacat dalam sejarah perjalanan kekristenan di Indonesia.

Gereja diselewengkan

BKAG memberikan contoh yang jelas bahwa gereja telah diseret oleh para pemimpinnya ke dalam budaya instan dan tujuan-tujuan jangka pendek. Tindakan semacam ini bertentangan dengan visi dan misi gereja yakni menjadi garam dan terang dunia. Sebuah lilin akan dapat menerangi sebuah ruangan yang gelap kalau lilin tersebut diletakkan di tempat yang terbuka seperti di atas sebuah meja bukan di bawah meja. Bagi saya, mendukung seorang kandidat apalagi mengatasnamakan gereja dengan menyelenggarakan sebuah ibadah penguatan bagi si kandidat adalah laksana meletakkan sebuah lilin di bawah meja. Ataukah para pemimpin gereja di Sumut menafsirkan bahwa menjadi garam bagi dunia adalah membawa dan membiarkan gereja bermesraan dengan para politisi sekuler?

Mari kita jujur memperhatikan apa yang biasa terjadi di tengah-tengah masyarakat kita selama ini. Para kandidat bupati, gubernur bahkan presiden senang merayu rakyat menjelang pemilihan umum tiba. Tidak hanya para kandidat eksekutif yang doyan merayu tetapi juga para kandidat legislatif yang sejatinya secara langsung merupakan perwakilan rakyat. Mereka senang menjual janji kosong dan entah bagaimana rakyat secara umum tak punya dasar untuk mengadukan para penjual janji-janji kosong ini setelah salah satu di antara mereka nanti akan memenangkan pemilihan.

Gereja mesti memiliki sikap dan tindakan yang jelas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah sebuah gereja bukan partai politik sekuler. Gereja pertama-tama dan terutama adalah manusianya, orang-orangnya yang mengikatkan diri dalam satu iman kepada Tuhan. Iman kepada Tuhan ini mengimplikasikan dirinya dalam bentuk-bentuk tindakan yang kongkrit: berpihak kepada apa yang adil, benar dan damai berdasarkan perspektif rakyat sebab suara rakyat adalah suara Tuhan; suara (para) pemimpin gereja belum tentu adalah suara Tuhan.

“Berselingkuh” dengan parpol

Kemesraan politisi dengan gereja apalagi dalam konteks masyarakat kita seperti belakangan ini adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Gereja adalah sebuah organisasi religius yang sudah berumur hampir 2000 tahun. Para pemimpin gereja tidak memiliki hak untuk menggadaikan organisasi religius ini demi kepentingan sesaat yang biasanya juga hanya dapat diakses dan dinikmati oleh segelintir orang. Perselingkuhan antara pemimpin gereja dengan politisi yang biasanya juga didukung oleh pemilik modal (pengusaha) demi mengamankan bisnis mereka potensial menghancurkan persatuan dan solidaritas orang-orang Kristen khususnya di ranah lokal.

Gereja adalah organisasi religius yang berbeda dengan institusi negara apalagi dengan “institusi” seorang kandidat gubernur. Jika sebuah “institusi” seorang kandidat gubernur mampu mendikte sebuah organisasi religius yang sudah berumur hampir 2000 tahun, maka ini adalah sebuah tanda kegawatan kondisi gereja secara internal; tak jelas lagi jati dirinya sebagai sebuah gereja. Untungnya, gereja tidak indentik dengan para pemimpin gereja yang jumlahnya hanya sedikit saja yang dalam waktu belakangan ini justru menyeret gereja ke arah kegelapan.

Laksana seorang Batak, para pemimpin gereja di Sumut telah membuat gereja di sini seperti seorang pribadi yang tak tahu marganya apa, asal-usulnya dari mana, tak mengerti tarombo dan partuturon ni halak Batak serta tak paham bahasa Batak, bahasa ibunya. Maka disebutlah Batak seperti ini sebagai Batak na ligon, Batak na lilu. Gereja yang tak lagi setia pada hakekat dan panggilannya adalah gereja yang ligon, lilu. Sejarah telah membuktikan bahwa siapapun yang menyelewengkan hakekat dan panggilan gereja sebagai sebuah organisasi religius yang pro kemanusiaan, keadilan dan perdamaian, entah dia pendeta, umat, politisi, penguasa, akan tertendang oleh penyelewengan yang dilakukannya sendiri, cepat atau lambat.

Reformasi gereja di Sumut

Saya perhatikan, tingkah laku para pemimpin gereja di Sumut tak ada lagi bedanya dengan tingkah laku para politisi yang mengincar kekuasaan pada posisi-posisi elitis dan strategis. Bahkan prilaku sebagian para pemimpin gereja di Sumut ini bisa lebih memprihatinkan daripada prilaku birokrat yang sering tidak berpihak pada rakyat, kepada umat. Pemilihan gubernur berlangsung setiap lima tahun; pemilihan ephorus juga demikian. Aneh tapi nyata sebab tahun ini, beberapa gereja di Sumut juga akan mengadakan sinode godang/bolon untuk memilih ephorus. Ada baiknya penyelenggaraan pilkada dan sinode godang/bolon dihindarkan pada masa yang berdekatan, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti tindakan mutualisme antara (calon) penguasa, pemilik modal dan pemimpin gereja.

Gereja-gereja di Sumut terutama umatnya perlu menggagas sebuah konsep reformasi untuk memformat ulang sistem hierarki kepemimpinan gereja yang sebenarnya tak lagi cocok untuk zaman ini. Kekuasaan yang terlalu besar di tangan pimpinan pusat gereja dalam hal ini ephorus dan jajarannya yang merupakan warisan abad pertengahan telah lebih banyak merusak gereja baik sebagai sebuah institusi dan memperlemah soliditas umat yang mengikatkan dirinya dalam satu iman, satu solidaritas.

Para pemimpin pusat gereja-gereja di Sumut lebih senang menjadikan diri mereka raja-raja kecil nan feodal; lebih senang dilayani daripada melayani. Karena lebih senang dilayani, mereka lalu lupa bagaimana melakukan kerja keras dan bagaimana berpihak kepada rakyat dalam tindakan nyata yang dalam prakteknya memang menuntut daya tahan spiritual, mental dan fisik yang besar. Kalau umat yang melakukan kesalahan ada sanksi tapi kalau pimpinan pusat seperti ephorus atau praeses bahkan pendeta resort, maka dengan mudah kesalahan itu dapat ditutupi oleh jubah hitam, doa-doa, ayat-ayat alkitab dan silat-lidah mereka.

Umat Kristen di Sumut perlu bangkit sebab para pemimpin mereka, sebagian besar sudah terjerembab. (www.tobadreams.wordpress.com)

**Tulisan ini, dengan judul aslinya “Gereja di Sumut mau ke mana?” sebelumnya sudah ditampilkan di sebuah milis.

***Limantina Sihaloho, anggota Gereja Kristen Protestan Simalungun.

12 Tanggapan to "Gereja di Sumut “Selingkuh” dengan Parpol"

Trims buat infonya lae, saya baru tau ada kejadian seperti ini lae.
1. Untuk bagian yang pertama, ikut2an buat acara seperti itu saya juga gak setuju. Tugas pendeta menurut saya cuma mempersiapkan/membekali jemaat ttg kriteria pemimpin yang bagaimana yang harus dipilih seuai dengan firman Tuhan. Ya, keputusannya pada hati nurani kita juga.
2. Generalisasi hamba Tuhan digereja lokal/suku saya tidak setuju lae. Saya anggota jemaat HKBP. Sistem hirearki gereja sekarang ini sudah cukup baik cuma perlu SDM para pelayannya ditingkatkan. (Malah harian Kompas minggu kemarin menulis saudara kita muslim salut dengan hirearki/institusi gereja yang ada sekarang dan mau “meniru”.
3. Kita doakan saja lae, agar hamba Tuhan/pendeta diberi kebijakan untuk melakukan Amanat Agung (Tohonan)Tugas Pelayanannya. “—-Pendeta juga manusia——‘

“Umat Kristen harus bangkit karena sebahagian pemimpin sudah terjerembab”. What’s should going to be done? Demonstrate? I guess it should be!! But we have to be careful for the effect. Remember what happened with one of the biggest Lutheran church in Asia couple of year in the past. there are so many victims of violence.. Am i correct… So the best suggestion is just wait, let the people it self give their own opinion about it. Our people have to be educated to be clever for this situation. Intinya adalah biarkan masyarakat yang menilai sendiri baik buruknya, masyarakat boleh tahu yang terbaik sendiri-sendiri. Tidak lagi pengerahan massa. karena ini menyangkut Agama dan kepercayaan. Apakah salah satu gereja yang saya sebutkan diatas tidak mengalami kemunduran dalam jumlah jemaat saat ini yang disebabkan pertikaian sebelumnya? Sekali lagi biarkan masyarakat yang menilai, namun ada baiknya kalangan siboto surat(mereka yang lebih pandai) untuk memberikan saran dalam memperangaruhi masyarakat untuk mengambil keputusan itu sendiri.

Saya tidak semerta-merta membantah dan sekaligus tidak juga meng-aminkan opini ini. Kenapa? Karena sumber berita lokal tidak dapat dipercaya lagi. Sib misalnya sangat membodohi pembaca yang kurang kritis. Jadi kalau hanya bersumber dari berita lokal itu, sama saja opini ini, tidak bisa dipercaya.

ito limantina, bkag nampaknya pura-pura ingin berperan untuk pilgubsu dengan mendoakan salah satu cagubsu 2008. atau mungkin karena hanya salah satu saja yang datang audiens dengan petinggi bkag itu; beda dengan jumlah yang datang kepada uskup agung medan atau kelimanya datang menghadap ke pemilik koran sib. jadi seakan-akan peran itu harus dibuat dengan legitimasi ibadah penguatan. nanti kalau salah satu cagubsu yang didoakan dalam ibadah penguatan itu tidak menang, semoga mereka bertobat.

Pertamatama saya minta ijin untuk memakai bahasa batak.

Hea do adong parjamita manjamitahon “molo adong dua dohot tolu baju-bajumuna lean hamu sada tu dongan muna naso marbaju-baju”.
Disada tingki adongma mamolus “pangido-ido” sian jolo jabuni parjamita on. Asi ma roha ni anak ni parjamita on mamereng pangido-ido i ala nunga marribahan paheanna,gabe dilean anakna i ma baju ni amana asa adong paheon ni pangido-ido i. Hape disada tingki dilului amana (parjamita) i ma bajuna dang disibe,disungkun ma anak na i manang didia bajuna i. Dialusianakna i ma amana,”nunga hulehon tu pangido-ido ala so marbaju-baju huida. Boasa leanonmu i ? Ninna amana i ma. Huingot jamita ni among i molo adong dua dohot tolu paheanmu “lehon hamu sada tu naso marbaju-baju” gabe hulean baju ni among i ninna anakna i mangalusi amana. Muruk ma amana i laos didokma “dang dohot tu hita jamita i holan tu jemaat i do i”.
Dang mandok sude parjamita nian songon i alai molo pinarrohahon nunga godang na marpangalaho songon parjamita na pinaboa nadiginjang i. Alana molo binege Pandita martangiang songon on do tangiangna laho marjamita sian podium. “DAME NASUMURUNG SIAN SALUHUT ROHA,I MA MANGARAMOTI ATE-ATE DOHOT PUSUPUSU MUNA”. Dang mangaramoti ate-ate dohot pusupusunta didok. Laos ala ni i do ra umbahen hea marbadai angka Pandita tu Pandita songon naung taboto be.
Jadi songon halak kristen ahu jala anak ni mantan Guru Huria,dang tu angka parjamita i ahu porsea,alai tu DEBATA SITOLUSADA do Ima AMA ANAK DOHOT TONDI PARBADIA.
Jadi molo pe BKAG mambahen songon i huhilala dang pola sadia pengaruh ni tu pemilihan Gubernur alai mauliate ma ala olo hamu manariashon sisongon on tu natorop asa diboto natorop pangalaho ni angka “siboto surat

Horas ma di hita on saluhut.

Ohh.. ku kira gereja yg di JKT aja yg spt itu. Ternyata di Sumut juga toh?? Jd aku mst kemana dong cari gereja yang bener.. Dah lama gak ke gereja nih.. kangen juga. :)

Nampaknya “oknum pengelola” gereja itu sedang kebingungan dan tidak tau lagi apa artinya menjadi “gembala gereja”.

Saya masih menganggap itu ulah oknum, meski tanda-tanda bahwa Gereja sebagai lembaga, juga sudah ikut-ikut melacurkan diri dalam politik Pilkada.

Semua juga tau, ikut dalam politik Pilkada artinya mau ikut dalam “politik uang” Pilkada. Kalau Gereja dilibatkan, maka sesungguhnya Gereja itu sudah hancur.

Kasihan Gereja sebagai lembaga dinodai oleh oknum-oknum berjubah itu. Tapi nampaknya umat tidak bisa berharap banyak, karena petinggi-petinggi gereja juga sudah dihinggapi penyakit kerincingan politik uang.

Mudah-mudahan masih ada yang mau kembali ke habitat sebagai gembala, sebagai pelayan, bukan sebagai pengelola, bukan sebagai penguasa gereja.

Sedih memang, dan lebih sedih lagi ketika melihat para “tokoh” nya yang merasakan dirinya sebagai Hakim Samuel, dengan tidak merasa sungkan mengatakan “pilihan Tuhan” terhadap seseorang. Sejauh itukah tugas mereka, Begitu mudahkah mereka mengumbar-umbar kisah dan ayat Alkitab untuk dijadikan sebagai bahan iklan. Hati tersayat, ayat-ayat yang saya kuduskan itu sudah menjadi iklan.
Betapa mereka melupakan kejadian masa lalu, ketika gereja diintervensi oleh politik maka gereja itu akan terbelah (perpecahan HKBP). Kini gereja tidak diintervesi politik, tetapi melibatkan diri dalam politik, apa yang akan terjadi,…..kita tidak demikian faham, seharusnya para tokoh tadilah yang harus merujuknya kedalam Alkitab dari buku Wahyu. Mereka menjual mangga dari Parapat.
Mereka lupa, bahwa gereja itu adalah koalisi dari banyak orang dengan satu kepentingan (single strainded horizontal coalition) yaitu Kasih dan memuji kebesaranNya, yang bila
dintervensi oleh vertical akan hancur berantakan, demikian dinyatakan para pakar sosio-antropolog. Mudah-mudahan gereja-ku dijauhkan Tuhan dari cobaan yang dibuat oleh para “pelayan”nya sendiri.

Apa yang salah dengan ibadah penguatan? bahkan jika ada calon lain (warga gereja) pun maka berhak mendapatkan penguatan, minimal dukungan moral dan doa dan bahkan ibadah. Apalagi si calon memintanya ke para Pendeta itu ? Konsep ini memberi dukungan kekuatan dan juga pesan moral bagi si calon untuk selalu mengingat tubuh Kristus dalam diri dan keyakinannya.

Saya malah bergembira jika semua calon meminta dukungan doa, melakukan ibadah penguatan. Itu menjadi kekuatan pelayanan dan menunjukkan gereja ada dimana-mana.

Lebih ekstrim saya katakan, bahkan Pendeta pun harus ikut kampanye atau ikut berperanan di mimbar kampanye, merujuk pada tugas pelayanan. Sebaiknya pola ‘silent dan tabu’ selama ini ditinggalkan. Jemput bola. Pelayanan tidak harus dibatasi oleh tempat dan waktu.

@Julius Silalahi

Tidak ada yang salah dengan ibadah penguatan kalau dilakukan dalam situasi yang tepat dan sepantasnya. Seperti yang dilakukan Yesus, yaitu pergi ke tempat sepi dan berdoa, bukan dilakukan di tempat umum dan mengundang wartawan. Kita harus hati-hati agar tidak seperti orang Farisi yang hipokrit itu.

Untuk menjadi terang dan garam harus kita lakukan melalui perbuatan dan dimanifestasikan dalam rupa karya anak manusia untuk kepentingan umat manusia sebagai anak Allah. Dengan demikian kehadiran gereja bisa dirasakan secara langsung, bukan sekedar entertainment spiritualitas…seperti yang sekarang banyak terjadi…dan dijadikan sebagai ladang untuk mencetak rupiah.

@Marudut –1000

100% setuju dengan lae. Mental selebritilah yang harus dipangkas, bukan hakekat dari acara itu. Yang sangat-sangat ditekankan adalah kejujuran dan ketulusan hati dan pikiran pangulu huria dalam setiap acara sejenis.

Pelayanan Yesus sendiri banyak dilakukan di tempat umum. Di pesta perkawinan, rumah pemungut pajak misal, lapangan. Ini mengisyaratkan kita untuk tidak tabu dengan pola pelayanan dan penguatan di keramaian dan tempat terbuka. Seandainya Yesus melakukannya di jaman sekarang, bahkan wartawan seantero dunia pun akan meliput. Yang seperti ini tak terelakkan.

Publikasi sah-sah saja. Bahkan gereja sekalipun membutuhkan publikasi. Pesta parheheon misal. Ujung-ujungnya ada lelang = mencetak uang.

Yang perlu dengan keras diingatkan dan menjadi tolok ukur bagi Gereja dan pendeta-pendeta yang melakukan penguatan agar menjaga hati dan nurani, ketulusan dan kejujuran dan fungsi garam bagi semua lapisan jemaat, agar tidak menjadi orang farisi jaman milenium.

Namun akhirnya siapa yang akan dipilih olah jemaat (dan masyarakat sumut umumnya), tidak seorang pun tau kecuali si pemilih dan Tuhan.

Berlangsungnya tata ibadah / kebaktian dalam gereja tertentu dan dalam situasi tertentu adalah hasil dari pada warnasari sermon yang dilaksanakan oleh para parhalado partohonan (sintua dan pendeta) gereja tersebut. Peranan sintua sangatlah besar apabila dibandingkan dengan pendeta, sebab mereka (sintua) adalah wakil dari seluruh jemaat sementara pendeta adalah uluan dari gereja itu. Apabila sintua tidak setuju dengan rencana “penguatan” seperti yang disinggung diatas, maka kebaktian penguatan itu tidak akan dapat dilaksanakan. Sekali lagi ditegaskan bahwa: Apa saja yang akan dilaksanakan pada kebaktian Minggu, sebelumnya dibahas didalam sermon baik itu tentang khotbah yang akan disampaikan oleh pendeta maupun warna sari. Semuanya itu akan diwartakan agar diketahui oleh jemaat. Pendeta (Kristiani) tetap saja punya kekurangan. Kehidupan seorang Pendeta berbeda dengan Pastor yang jauh dari godaan harta dan duniawi. Menurut saya apapun kekurangan pendeta, saya dan keluarga tetap membutuhkan kehadiran mereka. Sinode Godang sebentar lagi, Biarlah Tuhan memimpin mereka dan memberikan yang terbaik bagi kita sekalian untuk menata HKBP kearah yang lebih baik dari yang sudah baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 448,892 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: