batak itu keren

Benarkah Lagu “Halo-halo Bandung” Ciptaan Orang Batak?

Posted on: 31 Januari, 2008

Judul lagu ini mengingatkan gaya hidap anak muda di Medan masa itu. Saking tergila-gila film koboi, mereka jadi latah menyapa ,”halo”. Lalu apa sumbangan orang Ambon dalam karya rame-rame ini?

BANYAK hal yang masih berselimut kabut dalam rangkaian peristiwa Bandung Lautan Api, 61 tahun silam. Tak hanya tentang sosok Mohammad Toha, tetapi juga tentang siapa pencipta lagu “Halo-Halo Bandung”. Sejauh ini, khalayak mengenal lagu perjuangan tersebut ciptaan Ismail Marzuki. Akan tetapi, banyak orang yang meragukannya. Pasalnya, komponis kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914 itu berkecenderungan mencipta lagu-lagu berirama lambat nan romantis. Sementara, “Halo-Halo Bandung” termasuk genre lagu mars yang berirama cepat dan heroik.

Simak saja, misalnya, sejumlah lagu karya Ismail Marzuki, seperti “Rayuan Pulau Kelapa”, “Sabda Alam”, “Indonesia Pusaka”, “Juwita Malam”, “Selendang Sutera”, “Sepasang Mata Bola”, “Melati di Tapal Batas”, “Bandung Selatan di Waktu Malam”, “Aryati”, dan “Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi”.

Komponis senior Indonesia, Abdullah Totong (AT) Mahmud, membenarkan adanya polemik tersebut. Hanya, dirinya tak berani menghakimi mana pihak yang benar dan mana yang salah. “Informasi yang saya dengar, lagu tersebut, seharusnya, NN (no name; pencipta tak diketahui-red.). Saya sendiri tak tahu bagaimana kemudian lagu itu jadi ciptaan Ismail Marzuki,” ungkapnya, ketika dihubungi, Kamis (22/3) petang.

Polemik ihwal siapa pencipta “Halo-Halo Bandung” itu sebenarnya sudah lama terjadi. Di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan disebutkan, polemik itu mulai terjadi pada 1995.

Pestaraja Humala Sadungan Marpaung –akrab disapa Bang Maung–, seorang pejuang yang sempat bergabung ke dalam Pasukan Istimewa (PI), di dalam buku itu, menyebutkan bahwa lagu tersebut bukan ciptaan perseorangan. “Halo-Halo Bandung” merupakan ciptaan bersama para pejuang Bandung.

Sandiah Soerjono alias Ibu Kasur punya kisah soal ini. Suatu ketika, suaminya, Soerjono (Pak Kasur-red.) memberinya dua lagu baru, “Halo-Halo Bandung” dan “Gempur dan Rebut Bandung Kembali”. “‘ Halo-Halo Bandung’ memang bagus lagunya tuh. Kan bapak bilangnya begini, ’Pak, ini siapa yang bikin?’ tanya saya. ‘Ah, bocah-bocahe dewe.’ ‘Bocah Batak,’ katanya. Kalau tidak salah namanya Tobing…,” katanya.

Adjie Esa Poetra, pengamat musik, berpendapat berbeda. Menurut dia, kecenderungan seorang musisi tak bisa digeneralisasi. “Suatu ketika, bisa jadi seorang musisi mencipta lagu yang begitu lembut menyayat. Akan tetapi, di saat yang lain, bisa juga ia mencipta lagu yang garang dan penuh semangat. Ismail Marzuki, mungkin juga demikian,” ungkapnya.

Singkatnya, kata Adjie, proses mencipta seorang musisi tergantung suasana hati. Ia mencontohkan sosok Harry Roesli yang dikenal bengal. “Akan tetapi, suatu saat, ia mencipta sebuah lagu yang begitu menyayat, seperti ‘Jangan Menangis Indonesia’. Begitulah kira-kira,” katanya.

Melalui karya-karyanya, Adjie “mengenal” Ismail Marzuki sebagai sosok yang dinamis. “Saya kira, ‘Halo-Halo Bandung’, bisa jadi benar ciptaan Ismail Marzuki. Pada lagu itu, meski bergenre mars, saya menangkap ada sisi romantisme yang merupakan ciri khasnya. Lagi pula, Ismail Marzuki orang jujur. Rasanya, tidak mungkin dia mengakui sesuatu yang sebetulnya bukan karyanya,” ujar Adjie .

**

MENURUT Bang Maung, di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan”, proses penciptaan “Halo-Halo Bandung” dilatarbelakangi oleh perjuangan pemuda Bandung, tanpa melihat asal-usul suku bangsa. Hal itu tercermin dengan kata “Halo!” yang merupakan sapaan khas pemuda Medan, akibat pengaruh film-film koboi Amerika yang sering diputar, saat itu.

Ceritanya, pada suatu malam, di Ciparay, diselenggarakan perayaan Batak. Di sana, disediakan pula sebuah panggung dan memberikan kesempatan kepada pengunjung yang ingin menyumbangkan lagu. Seorang pemuda Batak bernama Bona L. Tobing, tiba-tiba menyapa, “Halo!” kepada Kota Bandung di kejauhan, “Halo Bandung!”. Kemudian sapaan itu memiliki irama, “Halo-Halo Bandung” seperti irama yang dikenal saat ini. “Akan tetapi, irama itu tidak selesai karena malam sudah larut,” tutur Bang Maung.

Sebagai pejuang, Bang Maung pun turut menyusup ke Kota Bandung, setiap malam, setelah peristiwa Bandung Lautan Api. “Siang hari tidak ada kerja. Jadi di Ciparay ini, anak-anak Bandung dari Pasukan Istimewa tiduran. ‘Eh, lagu yang kemarin itu mana? Halo! Halo Bandung! de-de-de— (berirama menurun).’ Setelah lama, orang Ambon juga ikut. Pemuda Indonesia Maluku itu, di antaranya Leo Lopulisa, Oom Teno, Pelupessy. Sesudah Halo-Halo Bandung, datang orang Ambonnya. Sudah lama beta! tidak bertemu dengan kau!’ Karena itu, ada ‘beta’ di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk kalau tidak ada dia di situ. Si Pelupessy-lah itu, si Oom Tenolah itu, saya enggak tahu. Tapi, sambil nyanyi bikin syair. Itulah para pejuang yang menciptakannya. Tidak ada itu yang menciptakan. Kita sama-sama saja main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa pencipta (Halo-Halo) Bandung? Para pejuang Bandung Selatan,” ucapnya.

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 23 Maret 2007.

7 Tanggapan to "Benarkah Lagu “Halo-halo Bandung” Ciptaan Orang Batak?"

Salam bang Toba. Ane juga baru tahu kalau lagu Halo-halo ciptaannya orang Batak. Tapi ane gak heran, darah seni emang kayaknya lekat banget sama orang batak.

Salam pedes dari ane..

Aku jadi inget waktu bulan madu ke Berastagi dan Danau Toba di ahir tahun 1991, kami menikmati musik batak tanpa sound system dan suaranya sudah oke banget.

Cocok banget dengan suasana bulan madu dan panorama danau toba yang indah.

Horas !:-)

Wah ngga tau sayah persisnya.
Tapi yang pasti saat kecil banyak belajar nyanyi lagu- lagu Batak sama Tulang2 yang kos dirumah di Bandung dulu,

Jadi teringat masa dulu yang katanya Soeharto-Soehoenan Aritonang, Elvi Sukaesih br Sitanggang, Benyamin S-Marga Sembiring Silalahi. Jangan suka ngeklaim lah..Malu Men.

Horas,
Dear All,
Bisa bantu saya?, dimana bisa mendapatkan biodata dan alamat atau email dari bang maung.
Saya adalah salah satu dari cucu Alm Brigjend tni purn Duniar Sitorus komandan pasukan istimewa (PI).
Saya ingin sekali bertemu bang maung sebagai saksi hidup peristiwa bandung lautan api, saya ingin membuat sebuah buku tentang perjuangan pasukan istimewa di bandung lautan api sebagai sejarah perjuangan bangsa.
Besar harapan saya, rekan2 disini dapat membantu saya dalam mendapatkan alamat dan informasi tentang bang maung tersebut.
ini nomor fleksi saya 71632538 atau email nasution_ade@yahoo.com
Demikian, terimakasih.

benarkah jansen sinamo orang batak, di majalah pakpak online mereka ngakunya bukan orang batak…disini ada kutipannya…

ANAK PAKPAK PIMPIN MEDIA BATAK

Barangkali Anda sekalian sudah tahu, ada sebuah majalah Batak namanya TATAP, yang diklaim terelit sekarang ini (baik isi, design dan bentuk). Materi isinya selalu mengenai Batak keseluruhan (edisi perdana 17 Agustus kemarin) ada liputan tentang Taman Wisata Iman di Sidikalang) dan selalu mengusung informasi dan inspirasi bagi orang Batak khususnya, bagi siapa saja yang membaca umumnya. Tulisan ini bukan untuk berpromosi, tapi ingin memberitahukan bahwa ternyata yang memimpin majalah TATAP itu adalah anak Sidikalang (anak Pakpak) bernama Jansen Hulman Sinamo. Lalu di jajaran Dewan Redaksi ada nama Hans Miller Banureah (keduanya adalah Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi pakpakonline ini. Kemudian ada Tinambunan eks Jakarta Post. Apapun, ini membanggakan, karena salah satu motor di belakang terbitnya majalah ini pun adalah Bupati Dairi, Pak Tumangger. Ini salah satu bukti lagi, bahwa orang Pakpak itu mampu. Meski baru mau menerbitkan edisi ke-2, majalah TATAP ini kelihatan lebih maju, karena penggarapannya yang begitu serius dan terarah. Menurut info dari Pak Jansen, komunitas Batak di London pun sudah memesan. Belum lagi pesananan-pesanan peredisi yang lebih layak disebut memborong. Di London, Liston Siregar, wartawan BBC sudah siap menjadi koresponden. Kita berharap kehadiran tiga anak Pakpak di majalah TATAP akan semakin menonjolkan eksistensi Pakpak melalui informasi-informasi yang aktual dan faktual. Itu doa kita bersama. Amin. *hmb

pakpakonline.com

Hmm…
Saya iseng searching ttg lagu Halo2 Bandung.
N sy liat disini ada tertera nama “Bona L. Tobing”.
Perasaan itu nama opung saya deh..
Sy bangga punya opung seperti beliau.

Salam,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 462,673 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: