Posted by: tobadreams on: 6 Januari, 2008
“Kalian boleh saja mengikuti arus pemikiran global yang paling canggih. Kalian harus kompetitif dan memainkan peran penting di tingkat nasional. Tapi… kalian tidak boleh tercabut dari akar. Kalian harus bangga menjadi orang Batak!”
Pesan bernada menggugat ini disampaikan Komjen (purn) Togar Sianipar kepada puluhan naposo bulung Sianipar. Dia melontarkannya bukan dari atas podium, tapi di tengah para muda-mudi itu yang berdiri berdempetan membentuk lingkaran. Tanpa tedeng aling-aling, jenderal polisi ini menyatakan kecewa, karena kaum muda sudah tdak peduli pada seni budaya Batak .
Momen kecil yang sangat inspiratif itu merupakan cuplikan Pesta Partangiangan Sianipar Purbaraja dohot Boruna se-Jabodetabek , Minggu siang tadi (6 Januari) di Gedung Pertemuan Gorga-2, Jakarta. Togar selaku penasehat di dalam kepanitiaan acara bona taon itu, menyampaikan kritikan tadi dalam pidato penutupan.
Momen penyadaran
Ketika Togar dipersilakan menyampaikan pidato penutupan, mungkin harapan sebagian besar hadirin hanyalah agar pidatonya sesingkat mungkin, biar bisa cepat pulang! Toh ini cuma sebuah pesta bona taon yang sudah sangat rutin. Biasanya, harapan-harapan yang disampaikan dalam pidato semacam itu sama saja dari tahun ke tahun, agar ikatan persaudaraan makin erat dan semoga diberikan rejeki yang melimpah oleh Tuhan.
Tapi kali ini sangat berbeda. Togar membuat acara pidato yang biasanya penuh basa-basi itu menjadi sebuah momen penyadaran, bukan saja berupa kecaman terbuka terhadap para pemuda, tapi juga otokritik buat para orang tua.
“Kenapa anak muda yang terlibat dalam acara ini cuma sembilan orang ? Kemana yang lain?”ujar Togar dengan suara menggelegar. Dia menebarkan pandangan ke barisan muda-mudi yang melingkarinya, lalu meneruskan dengan nada mengeluh,”Jauh-jauh hari panitia sudah meminta agar pemuda lebih berperan dalam acara ini. Kami ingin kalian tampil, makanya sengaja kami beri fasilitas, ada uang transport dan tempat latihannya di Viky Sianipar Music Centre. Tapi kenapa yang ikut menari (tumba) tadi cuma sembilan orang?”
“Mungkin bukan kesalahan kalian sepenuhnya. Kalian jadi begini pasti karena kami selaku orang tua sudah lalai, tidak mendidik kalian untuk mencintai budaya kita dan tidak memberi kalian kesempatan untuk berperan,”lanjut Togar seraya mengajukan pertanyaan kepada para pemuda Sianipar yang mengelilinginya,”Sebentar lagi acara bona taon ini akan selesai. Kita baru akan ketemu setahun lagi. Apa yang akan kalian lakukan sebelum bona taon yang akan datang, supaya kalian bisa saling kenal dan membuat kegiatan bersama ? Apakah kita akan terus begini-begini saja?”
Togar memuji Charlie dan Viky Sianipar
Togar menambahkan,”Aku bangga melihat Viky Sianipar dan kalian harus contoh dia. Padahal dia itu kan keturunan campuran, karena ibunya Sunda. Tapi dia sungguh-sungguh berbuat untuk memajukan budaya batak, lewat jalur musik. Sekarang dia sedang belajar bahasa Batak. Bagaimana dengan kalian yang bapak ibunya asli Batak?”
Jenderal purnawirawan itu juga memuji inisiatif Charlie Sianipar, yang dalam acara itu menampilkan slide berisi pesan-pesan mengenai ancaman kepunahan bahasa Batak. Salah satu poin menarik dari kampanye yang diprakarsai fotografer yang juga Tobadreamer itu adalah kalimat yang menyatakan, kepunahan suatu bahasa justru dimulai di rumah pemilik bahasa itu sendiri.
Adanya inisiatif seperti dilakukan Charlie, yang juga menampilkan foto-foto sangat ekspresif mengenai anak-anak dan para petani di Tapanuli, membuat pesta bona taon Sianipar Purbaraja menjadi sangat istimewa dibanding acara sejenis yang dilakukan ratusan marga lain. Kehadiran Viky Sianipar membuat kampanye penyadaran untuk kembali mencintai budaya Batak itu terasa tulus dan lebih nyata. Apalagi Viky sempat didaulat “berpidato” dan dia dengan polos menuturkan : tadinya dia malu menjadi orang Batak, tapi sekarang berbalik merasa bangga bisa menggeluti musik batak.
Memang terlihat adanya keseriusan Sianipar Purbaraja untuk menjadikan pesta bona taon bukan sekadar hura-hura, meskipun dalam pelaksanaannya masih tampak setengah-setengah. Satu bukti adalah dihadirkannya musik tradisional gondang sabangunan, yaitu rombongan gondang yang dipimpin jago seruling dan sarunai, Korem Sihombing. Namun sayangnya ketika muda-mudi manortor, yang mengiringi adalah grup musik moderen, dengan irama poco-poco.
Pesta naposo
Tampaknya Togar kemudian menyadari adanya fakta-fakta yang bertolak belakang tersebut, termasuk terlalu dominannya kalangan orang tua, sehingga para pemuda enggan ikut berperan. Beberapa saat seusai dia menyampaikan pidato penutupan yang kemudian dilanjutkan putaran terakhir lucky draw, Togar menyambar mik dan mengumumkan kepada hadirin, bahwa pengurus Persatuan Purbaraja se-Jabodetabek telah memutuskan untuk mengadakan pesta naposo Juni yang akan datang.
“Kita akan adakan pesta naposo bulan Juni nanti. Ini acara milik kalian, terserah mau diisi apa. Kami orang tua hanya menyediakan biaya dan menjadi penonton,”ujarnya yang disambut tepuk tangan antusias dari muda-mudi Sianipar. Wow keren!
Raja Huta
www.tobadreams.wordpress.com
ada apa dengan blogberita.com yang sudah melecehkan “DOA BAPAK KAMI” apaka dia orang batak yang kena gigit anjing gila?!
Kunjungi web kami http://www.blogderita.wordpress.com
Saya kurang setuju kalau dikatakan orang muda tidak peduli budaya Batak.
Sudah menjadi bagian kehidupan orang muda, yang selalu ingin mengetahui banyak hal, ingin mencoba berbagai budaya. Jadi kalau orang Batak muda menyukai budaya lain, tidak berarti dia tidak peduli budaya Batak.
Itu dua hal yang berbeda.
Yang saya kuatir justru orang tua/senior lah yang tidak mengajari anaknya tentang budaya Batak.
Jangan terlalu cepat mengkritik orang muda Bapak.
Menyimpulkan kalau orang muda tidak peduli budaya Batak, jangan-jangan itu excuse karena tidak mampu mendidik anak mengerti budaya Batak.
Maaf kalau komen saya dianggap kurang berkenan
Setuju Pak Togar!, Tapi jangan hanya complain anak mudanya saja dong. Kesalahan anak2muda sekarang kebanyakan adalah produk orang-orang tua..yaa..generasi Bapak inilah..
Saya sangat bangga sebagai putra batak yang lahir dan dibesar kan di tanah batak sekali pun saya telah merantu hampir 10 tahun di tanah sunda tapi saya tetap selalu ingin belajar budaya batak. Dimana saya berada batak selalu ada dalam hati saya.
Selama ini saya selau berusaha memperdalam pengetahuan saya tentang budaya batak dengan mencari dan membaca artikel-artikel batak.
Saya sering disebut natua-tua atau raja adat oleh teman-teman saya karena mereka melihat betapa besar nya perhatian saya kepada budaya batak, akan tetapi ejekan itu saya hiraukan demi kebaikan saya untuk memperdalam budaya batak. di umur saya yang masih relatif muda (24tahun) saya selalu bermimpi menjadi seorang yang bisa melestarikan budaya batak.
Kalau melihat generasi muda sekarang kita memang harus mengakui bahwa sudah tidak banyak lagi orang muda batak yang begitu peduli dengan adat dan budaya batak, contoh kecil nya saja sudah sedikit orang muda batak yang bisa mengerti PARTUTURAN dengan baik.
Saya sendiri heran mengapa kebanyakan orang muda batak sekarang terlalu cuek dengan budaya batak padahal kalau kita dalami lagi budaya batak itu sangat bagus karena banyak pedoman hidup yang bisa kita ambil darisana.
Mungkin pengaruh kebarat-barat an yang menjadikan kaum muda batak mulai meninggal kan budaya batak yang dianggap kuno dan ga gaul. untuk itu marilah semua kaum muda batak jangan hanya mengikuti trend dan kemajuan zaman…. ayo kita lestarikan budaya batak!!! jangan pernah malu menjadi orang batak!!!!
Bagi para orangtua juga tolong agar jangan lupa untuk mengajari anak-anak nya dengan budaya batak agar kelestarian budaya batak tetap terjaga.
HORAS
Horas,
Rasanya bosan, setiap kritikan tentang adat selalu itu2 saja.
Temanya pasti mengenai gen muda batak yang tidak peduli adat istiadat lagi.
coba pendekatan lain donk.
Seandainya saja generasi muda batak misalkan digalakkan untuk menelusuri tarombo dengan membuat database dan memetakan secara utuh, tentu lebih menarik ketimbang diceramahin terus menerus. kalo perlu ditantang untuk mengaplikasikan dalam program komputer. Tentu dampaknya akan jauh lebih besar.
aduuh… harusnya tokoh kek Pak Togar ini muncul lebih banyak dan terus menantang generasi muda batak…
tapi kadang image negatif ttg BATAK ini juga cukup membuat beban buat muda/mudi BATAK yang mulai menanjak usaha/karirnya ito…
ngk usah di pungkiri… kadang teman2 kita kalo ada berita kriminal dan sejenisnya, langsung terdeskripsikan di kepala mereka ‘biasanya yg begitu itu batak..!!!’… ini yang kadang suka bikin ‘muda/mudi batak’ itu jadi kek manaaaaaa lah yahhh
ngk heran kalo kadang ada sebagian ‘muda/mudi batak’ yang berusaha menyembunyikan identitas kebatakannya…
dgn alasan maluuuuuu di samain ma yang ada di berita kriminal itu…
)
harusnya jangan membandingkan diri ma yg negatif itu yah.. mending membandingkan diri ma tokoh batak yg sukses… dan itu buaaannyaaakkk bgt … dan ngk kalah banyak tuh ma yg negatif…
tapi yahhh ini PR lah buat semua … supaya semua melihat yg positif dan mengurangi yang negatif
Mantap juga amang Togar Sianipar ini bah, bicara blak-blakan. Kesalahan tidak harus dilimpahkan kpd anak muda, peran orang tua juga harus ada disamping itu kesadaran si anak muda itulah yg paling penting. Ise do ahu ? Who are you?.
Mungkin kita sbg orang tua generasi abad 21, seperti bahasa batak di rumah, mengajarkan partuturan, dan lain sebagainya. Dasar-dasar penting yg sekiranya perlu utk diketahui anak-itu harus diajarkan(mandatory!!!), supaya nanti dia tidak ‘Lilu’.
Songoni majo komentar sian ahu.
Mauliate.
Posting awal sepertinya tidak selengkap yang sekarang. Mungkin Raja Huta terlalu terburu-buru menulis diawalnya, baru dilengkapi belakangan.
Ada benarnya juga yang disampaikan oleh orang tua kita itu. Tapi peranan dia dan kawan-kwannya orang tua tidak kecil malah sangat besar untuk membuat hal itu terjadi.
Baru-baru ini ada kejadian yang unik ketika anak saya tardidi (Baptis) di Gereja HKBPberbahasa Batak .
Ketika orang tua para anak yang akan dibaptis marguru , ternyata susunan prosesi Baptis yang ditawarkan berbahasa Indonesia. Aku sebagai Batak medok protes!, kok bisa, acara gerejanya kan berbahasa Batak?. Sang Pendeta menjawab: hal tersebut sudah menjadi kebiasaan karena “Keluarga muda” sudah tidak lagi memahami Bahasa Batak!!!, ini untuk merangkul mereka. Maaf kebetulan Saya telat berkeluarga (Umur sdh 49 baru berkeluarga). Lalu saya bilang: Bagaimana dengan kami yang kurang faham Bahasa Indonesia ini?, sang Pendeta diam dan bingung. Lalu Ada seorang kawan anggota DPR yang juga sama aspirasinya dengan saya mengusulkan solusi untuk diambil voting. Dari 7 peserta ternyata 4 orang yang mengharuskan Bahasa Indonesia dan sisnya 3 orang masih jugul. Dasar jugul nya Batak fanatik, kami mengusulkan agar untuk kami bertiga yng kurang bisa berbahasa Indonesia prosesi harus dilakukan dalam bahasa Batak (dengan alasan ini kan once and for all!) paling tidak untuk sesi: …..Hudidi ma ho dibagasan Goar ni debata Ama dst. Dengan berat hati sang pendeta mengabulkannya, maklum disebelah saya ada Anggota DPR yang fanatik Batak.
Kebanggaan menurut saya tidak bisa dipaksakan. Kebanggaan datang dari lubuk hati paling dalam. Kalau lubuk hati kosong dengan ornamen Batak suuuusah diharapkan orang akan suka dengan lagu-lagunya Vicky Sianipar walaupun beat, lyric dan aransement musicnya ajubillah bin zalik.
Tolonglah Bapak Togar Sianipar dan kawan-kawannya orang tua jangan hanya memprotes tapi didik dan boan ma angka ianakkonmuna tu Habatahon. Horas
Sebenarnya kita para orang tua juga kurang mendidik
anak kita “berbudaya batak”.
Contoh; Dirumah sendiri sudah jarang memakai bahasa batak sebagai bahasa ibu dengan alasan agar mudah beradaptasi dengan teman-temannya.
Tak heran kalau anak muda batak kurang berminat lagi berbahasa batak apalagi bangga jadi orang batak
Maka sebaiknya mulai sekarang kita harus menunjukkan kebanggan kita sebagai orang batak
dengan cara melakukan (mempedomani) falsafah
“elek marboru,somba marhla-hula,manat mardongan
tubu”. Dengan katalain para orang tua harus dengan nyata melakukannya. Sebab manusia lebih percaya terhadap apa yang dilihatnya daripada apa yang didengar.
saya yakin,bila para orang tua benar-benar menerapkan falsafah diatas dengan baik dan benar
pasti para anak-anak muda akan ikut menerapkannya
sekaligus akan bangga menjadi orang batak . Dengan sendirinya mereka akan belajar menjadi batak dan “habatahonnya”.
Horas dibagasan adat dohot uhum.
Setuju dengan amang Bonar Siahaan.
Falsafah Dalihan Na Tolu itu sungguh indah dan menopang keharmonisan antar Rumah Tangga Batak. Orang Tua yang harus banyak mengambil peran, mengajarkan PODA, Uhum, mengajarkan bahasa Batak kepada anak sejak usia dini dan mengajarkan falsafah Dalihan Na Tolu.
Saya tertarik dengan falsafah dalihan na tolu yang menggambarkan sama tinggi,sama posisi. Namun bila dalihan na tolu sudah diterapkan menjadi adat batak saya kurang sependapat sebab; Dalihan (tungku) harus sama tinggi dan sama posisi agar periuk yang diatasnya tidak oleng. Tapi bila adat batak kita buat (ibaratkan) seperti dalihan natolu, menurut kacamata saya tidak sesuai sebab didalam adat batak peran dan posisi hula-hula tidak sama dengan peran dan posisi boru seperti dalihan. Hula-hula dalam adat batak diposisikan sebagai pemberi berkah,dan sebaliknya boru diposisikan jadi panumpahi,parhobas dan penerima berkat. Dan bila kita mencermati adat batak,tak pernah berbicara tentang dalihan natolu. Yang akan dibicarakan adalah “suhi ni ampang naopat”,dan cara bermusyawarahpun selalu berbentuk segi empat bukan segi tiga seperti letak dalihan natolu. Menurut pendapatku pribadi dalihan natolu lebih (sangat) sesuai menjadi falsafah hidup orang Batak daripada adat dalihan natolu.
Yang menjadi pertanyaan dalam benakku. Siapakah sebenarnya yang mempopulerkan “adat dalihan natolu” ?
Horas.
Untuk Lae Bonar Siahaan, maaf sebelumnya lae. Dalihan na tolu, somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu adalah “sistem kekerabatan dalam masyarakat batak” Bagaimana hubungan antara pribadi batak dalam suatu komunitas keluarga / sosial,
Saya bisa jamin teman-teman ( Toba Rider ) yang ada di bandung Bangga menjadi orang BATAK, Tapi orang-orang batak yang mapan dan punya kedudukan, saya TIDAK PERCAYA kalau mereka bangga menjadi orang Batak.
Horas……….!!!
sekarang ini banyak orang batak pantang so bilak…!!!, Apalagi yang sudah mapan tidak mencantumkan marganya di belakang namanya. Sekali Batak tetap batak….!!!!
Hidup BATAK…….hidup TOBA RIDER BANDUNG
Horas……….!!!
sekarang ini banyak orang batak pantang so bilak…!!!, Apalagi yang sudah mapan tidak mencantumkan marga di belakang namanya. Sekali Batak tetap batak….!!!!
Hidup BATAK…….hidup TOBA RIDER BANDUNG
sebenarnya begini..lo, kaum muda kan cenderung meniru gaya modern, kebanyakan berfikir kalau adat istiadat itu urusan orang tua. Bahkan ada yang mencoba menghilangkan identitasnya sebagai orang batak dengan tidak mencantumkan marga dalam namanya. Nama itu kan dari orang tuanya…, jadi menurut aku nih tidak sepenuhnya juga kesalahan dari anak muda, tapi dari orang tua yang kurang mendidik mereka tentang budaya batak.
Setuju dengan Lae Momos Parapat, memang peran generasi muda dalam setiap acara paradaton sangat minim, sehingga “adat Batak” menjadi eksklusif buat anak-anak muda khususnya mereka yang lahir di perantauan. Juga banyak orang tua yang tidak menggunakan bahasa batak dalam komunikasi di keluarga sehari-hari, tidak banyak lagi orang tua batak yang mendongengkan “turi-turian” dari Tano Batak. Mungkin hal-hal seperti itu diantaranya yang perlu kita koreksi bersama-sama. Kami generasi muda yang muda mencintai budaya Batak, juga jangan segan-segan mempraktekan berkomunikasi dalam bahasa batak dalam pergaulan sesama kita, mencoba sesering mungkin mengikuti acara ibadah gereja minggu dalam bahasa batak disamping mendengar firman Tuhan kita juga memperlancar listening bahasa batak kita. Salut buat Lae Charlie M. Sianipar, ayo Lae kita kita pikirkan cara-cara lain untuk menggiatkan penggunaan bahasa batak bagi generasi muda batak. Horas
Horas, baru bergabung.
Membaca diskusi rekan2 saya dapat kesimpulan bhw peranan orang tua sangat penting kepada generasi muda utk mencintai budaya Batak dan utk menjadi bangga sbg batak.
Mauliate
7 Januari, 2008 pada 8:33 am
Sangat mendukung kalimat amang Togar Sianipar tersebut….. Semoga ha-Batak-on tidak akan pernah punah oleh pemiliknya sendiri… kambali ke Batak itu Keren aja deh arti semua itu..heheh horas