Posted by: tobadreams on: 8 Desember, 2007
Penyanyi asal Madura dan Sunda mendapat kehormatan jadi bintang acara launching album baru Viky Sianipar, TobaDream-3. Lagu Sinanggar Tullo dengan adonan musik rock yang kental dan Sigulempong dengan napas R&B, dijagokan sebagai tembang unggulan. Siap-siaplah untuk digoyang oleh campuran musik rock, swing, jazz dan blues gaya batak. Ketabo…let’s dance together…
Seperti yang dijanjikan, album TobaDream 3 jadi diluncurkan Kamis kemarin. Acara peluncuran terkesan tidak glamour, namun puluhan wartawan tetap bertahan, meliput sampai selesai. Dimulai tepat pukul 14.00 WIB, acara launching di kafe TobaDream, Jakarta itu berlangsung dalam suasana akrab, diselingi gurauan segar dan gelak tawa. Kesannya seperti sebuah reuni saja.
Album TobaDream-3 mengusung 12 lagu, dengan dua tembang unggulan Sinanggar Tullo dan Sigulempong. Para penggemar musik batak pasti terkejut, bahkan mungkin ternganga, karena dua lagu yang sudah sangat tua itu telah “disulap” Viky menjadi remaja lagi — dengan tingkah sangat energik, genit dan sedikit nakal. Rock, swing, jazz, R&B terasa dominan dalam album ini, berpadu mesra dengan seruling dan gondang batak yang heavenly sound.
Viky Sianipar, sang kreator album pamungkas trilogi TobaDream, terlihat penuh vitalitas, percaya diri dan ceria—saat berdiri di panggung menjelaskan proses pembuatan album barunya itu. Viky menuturkan, sebelum tahun 2002 dia sungguh merasa malu terlahir sebagai orang batak. Tapi kemudian, lewat sebuah insiden, dia malah jatuh hati pada musik batak dan menelorkan dua album TobaDream. Namun sukses dua album tersebut justru membuatnya resah, karena media massa dan masyarakat lantas mengkategorikan dirinya sebagai musisi batak.
“Aku merasa itu sebagai penghinaan,”lanjut Viky. sembari menjelaskan, dengan dikategorikan sebagai musisi batak dia merasa dibonsai dan ruang geraknya dipersempit. Sejak kecil dia sudah akrab dengan kalangan musisi nasional dan merasa disitulah tempatnya yang layak, bukan di jalur musik tadisional.
“Tapi itulah hebatnya kekuasaan Tuhan yang misterius itu. Entah bagaimana aku didorong ke arah yang berlawanan dengan kemauanku, sehingga akhirnya aku menyadari musik batak itu dahsyat dan berkelas dunia. Lirik lagu batak itu dalam sekali maknanya dan bisa menjadi musik kaliber dunia, hanya dengan memperkuat aransemennya,”lanjut Viky sambil menegaskan,”Kini aku bangga disebut musisi batak. Dan aku bangga jadi orang batak.”
Batak banget
Hadirin dibuat terpingkal-pingkal ketika Viky menyebut dirinya “Si Pikki”, dengan penjelasan bahwa dalam aksara batak tidak ada huruf V. Penyebutan nama gaya batak itu didapat “Anak Manggarai” ini dari komunitas blogger, dimana Viky sendiri adalah seorang blogger tulen.
Selanjutnya Viky menjelaskan, TobaDream-3 adalah penutup trilogi album TobaDream, sebuah proyek baktibudaya yang dijalaninya sejak tahun 2002. Dengan diluncurkannya album ini, lengkap sudah tiga pilar monumental proyek “modernisasi” musik batak, yang oleh Viky disebut sebagai “nubuat” Dalihan Na Tolu.
Setelah Viky mengucapkan kredonya, para pengunjung kontan bertepuk tangan, bahkan ada yang melakukan standing ovation. Di deretan undangan yang nampak paling antusias dan bangga pada Viky adalah komposer kawakan Noortir Simanungkalit, penyanyi gaek yang tetap eksis sebagai entertainer Jan Sinambela, kemudian Sujiwo Tejo, Ramona Purba dan jenderal polisi yang ngefans pada Viky yaitu Togar Sianipar.
Selepas “pidato” Viky, acara berlanjut dengan pemukulan gong oleh “the Big Boss” Monang Sianipar. Itulah satu-satunya mata acara berbau seremonial, menandai peluncuran album TobaDream-3 secara resmi. Tapi kesan resmi itu pun cair dan meleleh menjadi momen yang lucu dan menyentuh hati, dimana anak dan bapak saling “ngeledek” secara cerdas – satu bentuk pernyataan cinta antara bapak dan anak yang dibungkus dalam sikap menahan diri dan macho. Batak banget!
“Lapor Pak Produser, album TobaDream-3 telah saya rampungkan,”kata Viky yang kontan disambut gerrr panjang oleh hadirin. Kemudian dia menyerahkan album TobaDream-3 ke tangan Monang Sianipar, ayahnya yang juga produser semua album yang dikerjakan Viky, termasuk album Tongam Sirait bertajuk “Nommensen”.
Tak kalah tangkas dengan anaknya paling bontot itu, Monang berkata ditujukan pada hadirin,”Aku harus tanya Viky dulu, apakah album ini sudah benar-benar selesai.” Pengunjung gerrr panjang lagi. Kemudian Monang menabuh gong tiga kali, lalu dengan wajah bangga dan bahagia – yang kali ini tidak dia bungkus lagi dengan sikap menahan diri, kampiun bisnis kargo nasional itu memeluk erat Viky–musisi muda megatalenta yang diam-diam dikaguminya.
Ketabo…let’t dance together
Acara launching album TobaDream-3 dibagi dalam tiga segmen : seremonial, jumpa pers dan penampilan artis-artis andalan dalam album ini. Mengenai jumpa pers akan aku tulis di artikel terpisah, karena pasti lumayan serius dan panjang lebar. Lebih baik kita langsung meloncat ke segmen ketiga, bergoyang lepas dengan iringan musik rock yang kental, swing dan jazz yang terasa berayun dan blues yang mengharu-biru tapi tetap nge-beat sedikit-sedikit.
Nah inilah dia, Ervina Simarmata, gadis usia 18 berparas imut dan cantik. Dengan napasR&B, Ervina membawakan lagu Sigulempong dengan vokal prima dan penghayatan lebih menukik daripada penyanyi manapun yang pernah mendendangkan lagu ciptaan S.Dis ini. Benar-benar surprise! Lebih sedap lagi kalau kau dengarkan rekamannya, dimana tiupan seruling sang maestro Korem Sihombing terdengar lebih bening, membentuk paduan yang ganjil namun harmonis dengan vokal Ervina yang rada-rada crispy pada bagian refrain.
Berikutnya, sambutlah perempuan Madura yang “nyasar” ke komunitas batak, namun mensyukurinya sebagai keberuntungan terbesar dalam hidupnya: Indah Winar. Janda ayu ini tidak hanya punya nyali besar menembus mental barrier – keluar dari kepompong yang membuat etnis Madura dicap tertutup– tapi memang vokalnya pun dahsyat. Saat membawakan lagu Ketabo, jebolan sebuah pesantren di Sumenep, Madura ini berhasil menyihir hadirin ikut bergoyang dengan rentak blues yang jazzy. Bukan main! Biarpun tidak dikenal masyarakat, Indah yang indah ini sejatinya adalah DIVA musik blues Indonesia.
Dan akhirnya, sebagai penampil utama di puncak acara, inilah Arrysyaff. Penyanyi muda yang terkesan terlalu jangkung ini tampil rocker banget, baik kostum, aksi panggung maupun vokalnya. Tanpa basa-basi dan intro musik, vokalis grup Cockpit yang mendapat julukan Peter Gabriel-nya Indonesia ini langsung tancap gas pada tarikan pertama. Hadirin pun sontak menggila, ikut-ikutan berjingkrak meniru gaya Arrysyaff di panggung.
Bravo, bro, itulah ucapan paling pantas kita sampaikan pada orang Sunda satu ini, yang mendadak batak banget saat membawakan Sinanggar Tullo. Bravo Arrysyaff. Ucapan serupa layak pula ditujukan pada Indah Winar dan Edo Kondologit. Kendati bukan orang batak, artikulasi dan penghayatan mereka dalam membawakan lagu-lagu batak tidak kalah dengan orang batak asli. Musik memang universal!
Dan akhirnya, congratulation Viky.
Say Horas to the world.
Saying it aloud in proud, bro.
(www.tobadreams.wordpress.com)
Salute..buat Viky Sianipar yang telah menjadikan musik batak menjadi musik banyak suku di Indonesia.
Salute…juga buat Raja Huta yang telah melaporkannya dengan sangat baik sehingga membuat aku tambah nyesal karena tidak bisa hadir pada saat itu.
Setelah dengar lagu-lagu dalam CD TD3,aku makin suka dengan lagu Tona ni Tao dan poda yang dinyanyikan Edo Kondologit.KEREN
@Raja Huta
kau buka dulu imel mu baru komentar kau bang di sms ![]()
Horas
Sayang sekali di Cilacap susah untuk mendapatkan koleksi lagu-lagu ranah Batak.
Saya suka lagu-lagunya Nainggolan Sisters dan juga Victor Hutabarat salah satunya “Sai Anju Ma Au”.
Saking sukanya lagu itu saya jadikan nada dering di HP. Akibanya banyak yang terkecoh dan mengira saya orang Batak, padahal saya Jawa asli.
Salam kenal lae.
kemana harus ku cari TD3 ini ito… dah ku masuki semua toko kaset di tangerang ini… tak ada!!!
e tahe… kek manalah itu pdhal awak dah kek ngidam rasanya!!!
apa harus ke cafe tobadream aku yahh baru dapat cd/kasetnya ???
OK lah …! tahun depan aku kesana lah … ku tunggu dulu lae mu pulang dari rantau supaya ada yg temenin aku ke sana… supaya tak nyasar2 aku
)
9 Desember, 2007 pada 6:51 am
hahahah reviewnya bagus sekali saya malah jadi dengan rela untuk menjadi penasaran dengan album ini