Posted by: tobadreams on: 12 Nopember, 2007
Bayangkan betapa “liarnya” atmosfir di TobaDream, malam Minggu
kemarin (10/11/2007). Viky Sianipar dan Tongam Sirait tiba-tiba berhenti mencabik gitar elektriknya. Lalu keduanya mengambil sesuatu dari belakang panggung. Kemudian dengan kompak mereka mengangkat tangan…ternyata, tangan mereka mencekal gelas ….tuak!
Surprise! Di sebuah kafe kelas atas, pengunjungnya pun sebagian kalangan the haves-nya komunitas batak di Jakarta, siapa sangka tuak bisa jadi “primadona”. Hebatnya lagi, seluruh pengunjung spontan berdiri dan meniru Viky-Tongam, mengangkat gelas masing-masing, lalu menggoyangnya secara beralun.
Jadilah suasana di TobaDream malam itu seperti sebuah ritual yang aneh, tapi mengasyikkan. Semua tangan terangkat dan beralun ritmis mengiringi nyanyian Viky dan Tongam : lissoi lissoi lissoi lissoi…oh parmituuu, lissoi, lissoi, lissoi lissoi… sirup ma tuak mi…
Saat mereka menyanyikan,”sirup ma tuakmi,” kontan seluruh tobadreamer (sebutan pengunjung TobaDream) meminum tuak masing-masing. Glek glek glek, lalu semua bertepuk tangan sambil tertawa senang. Viky cs pun nampaknya nggak mau rugi, ikut pula meminum tuak mereka, sampai tandas. Kemudian lagu mengalun lagi,”dorgukma dorgukma….” dan tuak pun kembali “ditenggak”.
Ritual minum tuak yang aneh namun mengasyikkan itu berlangsung sekitar 40 menit. Para tobadreamer bernyanyi, semua. Tidak ada lagi pembatas panggung dengan deretan kursi pengunjung. Tidak jelas lagi siapa biduan siapa penonton. Semuanya baur, larut dan menyatu. Semuanya bernyanyi sampai parau, lalu dibasahi lagi dengan “tequila” dari Tapanuli itu.
” Dongan sapangkilalaan…oh parmituuu, dongan sapartinaonan oh parmitu….”.
Patut diacungi jempol ide pengelola kafe mengadakan “ritual lissoi” tersebut. Awalnya sebagian pengunjung terlihat masih ragu-ragu atau malu-malu. Tapi segera saja semuanya larut dalam gelombang gairah yang sama. Tua-muda, yang sudah kaya atau yang masih mimpi jadi kaya, kelas majikan atau proletar borjuis, semuanya menyatu dalam sensasi yang dipicu oleh paduan musik, tuak dan kebersamaan.
“Sirupma sirupma….dorgukma dorgukma…”
Sensasi kecil semacam itu memang cocok untuk melepaskan seluruh kepenatan lahir batin, setelah sepekan disiksa oleh jalan-jalan kota yang macet, kecemasan-kecemasan rutin saat menyeberang jalan, misalnya, dan absurditas kota besar yang makin sulit dimengerti. Suasana kebersamaan sekumpulan pengunjung yang sebenarnya tidak saling kenal itu, merupakan oase kecil bagi jiwa-jiwa yang letih, emosi yang terkuras atau tersumbat; derita tersembunyi di balik gemerlap kehidupan metropolitan.
Komunitas Bataknews, yang entah legal atau ilegal telah menjadi penguasa meja nomor 19 — belakangan malah disebut Bataknews Corner, tidak ketinggalan dalam ritual tuak yang sungguh membahagiakan itu. Beberapa selebritis Bataknews, termasuk seorang cewek asal balige yang telah menjadi primadona Bataknews alias Blog Berita Dot Com–adalah yang paling tinggi mengangkat gelas tuaknya. Dia bilang, itu pengalaman pertamanya menenggak tuak!
Usut punya usut, yang punya ide “memuliakan” tuak itu adalah the owner kafe tersebut, siapalagi kalau bukan Monang Sianipar. Pengusaha yang lebih suka ngomongin budaya ini beralasan,”Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan dan mengangkat derajat tuak.”
Jujur aja, pengalaman minum tuak pada malam Minggu yang fantastis itu benar-benar unforgetable. Menimbulkan sebuah renungan kecil, jangan-jangan kalau diolah, dikemas dan diperlakukan secara istimewa, tuak pun nggak kalah dengan minuman-minuman “emas” dari manca negara, misalnya tequila, wine, bir, ale, dll.
Malahan aku rasa tuak masih lebih hebat, karena ada lagu pengantar minum tuak, sedangkan minuman-minuman impor itu nggak punya “theme song”.
Kalau tuak makin diminati, bona ni pangko (pohon aren) akan ditanam kembali di Tano Batak. berarti kehancuran lingkungan di Bonapasogit bisa dicegah. Pikiran semacam ini masih mengalir lembut di benakku, ketika aku pulang sambil bernyanyi kecil,”Sirupma sirupma…dorgukma dorgukma……..
batak adalah awal dari kita mengenal agama soo jangan sampai budaya batak kita lupakan atau buang begitu saja
21 Nopember, 2007 pada 1:12 pm
Horas
Ah kau bang, kau bikin malu aja.Ganti lah sebutan nya itu, jangan selebritis,primadona pulak, mak ngeri kali bah.
Iya bang, baru kali itu aku minum tuak seumur2 bah,ruarrrr biasa.
Tadinya udah ga mau aku minum, eh di bollangi si Pikki aku, jadi minumlah.
Horas