batak itu keren

Pahlawan Nasional asal Tanah Batak, Raja Sisingamangaraja XII, gugur pada 17 Juni 1907 dalam kontak senjata melawan kolonial Belanda di Sionom Hudon, Dairi. Dalam pertempuran yang sengit itu, turut gugur dua putranya, Raja Patuan Nagari dan Raja Patuan Anggi, serta putrinya Si Boru Lopian.

PERINGATAN 102 tahun wafatnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII digelar secara sederhana, dengan melakukan upacara ziarah ke makam pahlawan asal tanah Batak ini di Jalan Pagar Batu Soposurung Balige Tobasa, Rabu (17/6),  dengan inspektur upacara Kapolres Toba Samosir AKBP Frenkie Radot Samosir P. Baca entri selengkapnya »

Warung Tuak Menuai Protes di Medan

Posted by: tobadreams on: 18 Juni, 2009

Suara musik yang keras dari warung tuak itu terdengar hingga dini hari dan masuk langsung ke dalam rumah, sehingga ketenangan masyarakat benar-benar terganggu pada malam hari. Apalagi penjualan tuak itu pada malam-malam tertentu non stop,  sejak pukul 17.00 hingga menjelang pagi.

KEPALA Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Medan Maju Siregar mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya segera menertibkan warung-warung tempat penjualan minuman tuak di kawasan Jalan Panglima Denai, Kecamatan Medan Denai.

“Saat ini petugas Disbudpar sedang melakukan intensifikasi warung-warung tempat penjualan minuman tuak di kawasan itu. Setelah itu, kita akan memberikan peringatan secara tertulis. Bila surat itu tidak ditanggapi, maka warung tuak tersebut ditertibkan atau dibongkar,” kata Siregar kepada Waspada  (pertengahan bulan lalu). Baca entri selengkapnya »

Danau Toba di Mata Mahasiswa Malaysia

Posted by: tobadreams on: 18 Juni, 2009

Yang saya tahu penduduk di sini mayoritas adalah suku Batak. Mereka adalah penduduk asli yang tinggal di sekitar Danau Toba. Mereka ramah dan bersahabat.  Secara detail saya masih kurang mengenal kebudayaan mereka. Tapi masyarakat Batak terkenal dengan ulosnya.

toba

Baca entri selengkapnya »

Seandainya para keturunan perantau asal Mandailing di Malaysia itu bertujuan baik untuk menghidupkan  ikatan dan diplomasi budaya dengan tanah leluhur; seharusnya mereka tidak gegabah melancarkan perang persepsi; yang tak disukai oleh sebagian besar masyarakat Mandailing yang merasa dirinya Batak , dan melukai perasaan orang Batak Toba karena dilukiskan sebagai keturunan budak.

Oleh : Robert Manurung

PELANGGARAN perbatasan yang bolak-balik dilakukan oleh kapal perang Malaysia di perairan Ambalat, Kalimantan Timur, telah melukai perasaan mayoritas orang Indonesia. Timbul kemarahan umum, dan muncul desakan dari  masyarakat :  agar Pemerintah RI memberi pelajaran kepada negara tetangga yang arogan dan menyebalkan itu.

Situasi yang sedang memanas ini tiba-tiba mengingatkanku pada “perang persepsi” yang dilancarkan oleh orang-orang yang mengaku peranakan Mandailing di Malaysia, yang dipelopori oleh orang bernama Abdur Rozak Lubis. Melalui ratusan blog, situs dan tabloid, warga negara Malaysia itu menyebarluaskan sejarah “Suku Mandailing” versinya sendiri, dengan target untuk mengubah persepsi masyarakat Batak Mandailing. Pada intinya mereka berusaha meyakinkan, bahwa masyarakat Mandailing bukan Batak, melainkan ranting dari etnis Minang.

“Perang persepsi” yang dilancarkan warga negara Malaysia itu sepintas tidak tampak seperti masalah serius. Mungkin, di kalangan etnis Batak asal Mandailing pun hanya sedikit yang merasa terusik. Sebaliknya, cukup banyak juga kelihatannya yang berhasil dipengaruhi oleh kampanye bersifat indoktrinasi  oleh keturunan perantau asal Mandailing itu–yang notabene telah lima generasi menjadi warga Negara Malaysia.

Sekarang, aku jadi bertanya-tanya, apakah perang persepsi tadi hanya sebuah usaha mencari akar sejarah “Batak nalilu” di Malaysia; atau jangan-jangan itu merupakan politik devide et impera ? Apakah intervensi budaya  yang berusaha memecah-belah Bangso Batak itu—tepatnya memisahkan penduduk eks Tapanuli Selatan yang mayoritas beragama Islam,dari penduduk eks wilayah Tapanuli Utara yang mayoritas Kristen; bertujuan jangka panjang untuk mencaplok wilayah Mandailing dan sekitarnya lalu digabungkan dengan Malaysia ? Baca entri selengkapnya »

Bangkit (4,5) th adalah anak yatim piatu; bungsu dari 4 bersaudara. Ayahnya meninggal Desember lalu dan ibunya meninggal Februari lalu. Sepeninggal ibunya, dua kakaknya diasuh namborunya di Medan. Tinggallah Bangkit bersama Afles (12 th) di rumah inangtuanya di Tarutung.

Ketika Bangkit makin sakit, Bangkit dan Afles dibawa ke rumah neneknya yang sudah tua dan buta. Praktis hanya Afles yang mengasuh dan merawatnya. Ketika ketahuan bahwa Bangkit terkena AIDS mereka diusir dari kampung tersebut. Luar biasa.

Oleh : Pdt Paulina Sirait

Dear all,

SEJUJURNYA, saya baru mengetahui kabar ini Minggu pagi melalui SMS dari  pendeta Gomar Gultom (Persatuan Gereja Indonesia) - seusai mengikuti Ibadah Minggu pagi di HKBP Pematangsiantar. Berikut petikan SMS-nya : Baca entri selengkapnya »

Batak Keren Itu Bernama Sintong Panjaitan

Posted by: tobadreams on: 28 April, 2009

Dan kini, sebagian besar halak hita mungkin sudah melupakan detil peristiwa itu, sambil terus bertanya-tanya dalam hati mengenai nasib Sintong setelah karir militernya “diamputasi”. Namun cerita sedih “de-Batakisasi” yang mematikan karir ribuan orang Batak di berbagai instansi di republik ini, masih sering dituturkan dengan nada getir di kalangan Bangso Batak hingga saat ini.

Oleh : Robert Manurung

BAGI kalangan etnis Batak, jenderal yang lahir di Sigompulon, Tarutung, 4 September 1940, ini, adalah personifikasi nilai-nilai ideal Bangso Batak; yang meliputi daya juang, kecerdasan, keberanian, taat azas, integritas, dan solidaritas. Namun sebaliknya pula, dalam memori kolektif halak hita, Sintong juga merupakan “simbol kekalahan” etnis Batak di kancah nasional–sejak dekade 90-an hingga sekarang. Baca entri selengkapnya »

Mati Ketawa Gara-gara Pemilu 2009

Posted by: tobadreams on: 15 April, 2009

Perilaku caleg di Indonesia juga sangat cinta damai. Jika di negara-negara lain para politisi tega melakukan kekerasan, dan bahkan membunuh, demi memenuhi syahwat kekuasaan; di negeri tercinta ini para caleglah yang mati setelah gagal jadi anggota dewan, mulai dari yang terkena serangan jantung sampai yang ikhlas bunuh diri.

 Oleh :  Robert Manurung

1. Kita patut merasa lega dan bangga karena kesadaran politik rakyat Indonesia  ternyata sudah sangat tinggi. Buktinya jumlah caleg secara nasional dalam pemilu barusan tak kurang dari 1,7 juta orang. Artinya, di antara 100 pemilih ada satu caleg. Ini pasti rekor dunia. Sedangkan di negara jiran, Malaysia, rasionya 10.000 : 1. Baca entri selengkapnya »

Potret Tapanuli Untuk Para Calon Presiden

Posted by: tobadreams on: 9 April, 2009

butuh-perbaikan11

BUKAN KUBANGAN KERBAU !

Sekadar untuk  mengingatkan : “jalan raya”  yang tampak dalam foto di atas masih termasuk wilayah Republik Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Alboin Sitorus dan “Anak Nanimiahan”

Posted by: tobadreams on: 9 April, 2009

Oleh : Suhunan Situmorang

SAMA sekali aku tak mengenal dirinya. Peristiwa yang menimpanya pun aku tahu dari sebuah koran langganan pada pagi dua hari lalu. Lelaki 43 tahun itu, diberitakan meninggal dunia saat mengemudi bus Transjakarta di lintasan Jalan Sudirman. Ia tiba-tiba terduduk lemas saat menyetir dan bus yang dikemudikannya sempat oleng ke kiri dan kanan jalan—membuat puluhan penumpang keheranan dan cemas. Baca entri selengkapnya »

Buku Sintong Panjaitan Memang “Shocking”

Posted by: tobadreams on: 17 Maret, 2009

Mengapa sebagian besar pimpinan ABRI pada waktu itu berada di Malang ? Kalau mereka tahu akan terjadi kerusuhan yang begitu dahsyat tetapi memutuskan tetap pergi ke Malang, maka mereka membuat kesalahan. Tetapi kalau mereka tidak tahu akan terjadi kerusuhan, mereka lebih salah lagi. Mengapa mereka sampai tidak tahu ?

Oleh : Raja Huta

SIAP-SIAPLAH melihat Indonesia dari perspektif baru yang tak terbayangkan sebelumnya, terutama seputar momen-momen gelap sejarah bangsa ini pada bulan Mei 1998. Letjen (Purn) Sintong Panjaitan membeberkannya secara blak-blakan, runtut dan rinci, lewat bukunya yang kini sedang mengguncang panggung politik nasional. Lebih dari sekadar mengejutkan, buku itu benar-benar “shocking”. Baca entri selengkapnya »

Kristison Simbolon, Jadi Dokter Gigi Karena Pulsa

Posted by: tobadreams on: 16 Maret, 2009

Foto : Mohammad Hilmi Faiq/Kompas

KRISTISON/photo by Mohammad Hilmi Faiq/Kompas

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandung tahun 1998, ia paham betul tak bisa hidup berkecukupan. Orangtuanya adalah petani yang hanya mampu memberi dia bekal Rp 1 juta untuk biaya pendaftaran dan administrasi kuliah. Ia hanya mengantongi sisa uang sebesar Rp 200.000, dan tak ada lagi dana kiriman dari kampung. Baca entri selengkapnya »

Protap, “Komoditas Panas” Pemilu 2009

Posted by: tobadreams on: 15 Maret, 2009

Sayangnya, peristiwa demo anarkis oleh para pendukung Protap di Medan, awal bulan lalu, telah gagal direspon secara bijaksana dan tepat oleh pemerintah provinsi Sumut dan pemerintah pusat. Tekanan politik dan “kriminalisasi” serampangan terhadap sub-etnis Batak Toba–pasca peristiwa itu, telah menggeser fokus dari masalah ketimpangan pembangunan ke perebutan “hegemoni” etnis di Medan. Baca entri selengkapnya »

Gelar Itu, Betapa Penting Rupanya

Posted by: tobadreams on: 14 Maret, 2009

Tak mengada-ada, sedikit saja di antara ahli itu yang menurut saya, layak disebut sebagai pakar. Malah banyak yang (sorry to say) menurut saya: tak layak disebut akademisi—apalagi pakar. Qua konsep pun sudah lemah, bagaimana mau diharapkan memberi pemikiran baru yang kami perlukan? Ironisnya, cukup banyak di antara mereka jebolan kampus luar negeri dan di kampus masing-masing menduduki jabatan prestisius : dekan, pudek, ketua jurusan.

Oleh : Suhunan Situmorang***

ENTAH sudah kali ke berapa saya terima surat, undangan, kartu ucapan, dengan embel-embel MH dibelakang nama saya. Telah berulang pula saya koreksi—di berbagai pertemuan ilmiah hingga rapat marga—bahwa saya tak bergelar MH dan lebih senang bila titel pendidikan tak usah dilekatkan pada diri saya. Sejujurnya, saya lebih senang bila orang menulis nama saya: Suhunan Situmorang saja Baca entri selengkapnya »

tobadreams weblog

Robert Manurung's Facebook profile

Blog Stats

  • 153,115 hits

Arsip